Selasa, 27 Oktober 2015

Jalan-jalan ke Shanghai, Berakhir Aduhai

Gedung tinggi menjulang, lampu berwarna-warni, menjadi pemandangan yang memanjakan mata setiap hari. Mungkin hal itu bikin elo pengin tinggal di luar negeri. Begitu juga gue. Pas gue ngeliat film-film Jackie Chan, gue jadi pengin main ke China. Karena, konon China itu negara yang cukup digdaya.


Pemandangan semacam ini, bikin gue semakin nafsu buat main ke sana. Itulah kenapa, gue mutusin buat main ke Shanghai! Yeay! Beberapa teman sempat mengingatkan untuk memilih kota lain aja, tapi gue nggak mempedulikan mereka. Karena, gue jalan-jalan bukan untuk nyari kesenangan, melainkan keresahan. Keresahan untuk apa? Untuk ditulis menjadi sebuah buku. Hihi!

Wah.. Imigrasi China menerima kedatangan Alien

Tapi setelah gue nyampe di Shanghai, segala ekspektasi gue atas indahnya kota itu pun bubar jalan. Karena, kenyataannya pemandangan yang gue liat di Shanghai pas siang hari adalah seperti ini.


This city is only good to hang out at night

Iya, itu semua adalah polusi udara, berkat banyaknya industri di sekitar sana. Yah, lo pasti tau lah, hampir semua barang di bumi ini dibuat di China. Makanya, wajar aja kalo di China banyak pabrik. Jadi, ya begini deh efeknya. Faktanya, sangking buruknya polusi udara di Shanghai, konon efeknya setara dengan menghisap 12 batang rokok setiap hari. Sedih.


Selain soal polusi udara, ada beberapa hal nggak wajar yang gue alami di sana. Ini beberapa di antaranya:

Kriminalitas
Gue ingat, hari pertama gue sampai di Shanghai, gue main-main ke Yu Garden. Di sana, deket juga area pasar tradisional gitu. Gue bisa beli pernak-pernik buat oleh-oleh temen-temen kantor. Nah, uniknya, gue kira Yu Garden ini bakal bagus dan damai banget. Kenyataannya, tempatnya cuma kayak kolam ikan  di rumah sakit yang ada jembatan kecilnya gitu. Di mana, pengunjungnya terlalu banyak, sampai susah buat gerak. Duh.


Potongan rambut hipster

Inilah kehidupan Ranger-Pink saat ini

Balik dari tempat itu, tepatnya pas nunggu taksi, gue tiba-tiba disamperin orang berhidung mancung, namun berkulit agak gelap. Dia ngeluarin sebuah iPhone dari kantongnya, terus cuma bilang, "Hrr.. Hrr.. Hrr.." Sambil buka info di iPhone itu. Iya, cara ngomong dia mirip anggota suku pedalaman yang masih suka melakukan ritual Kanibalisme. Gue sempet takut, tapi gue kembali inget, takut itu cuma sama Allah. Gue pun tenang kembali.

Awalnya, gue kira dia mau minta bantuan gimana caranya buat nelpon mantan, ternyata setelah gue pahami lebih lanjut, dia mau menjual iPhone-nya. Dia menjual iPhone itu seharga CNY 1000, atau kalau dirupiahkan menjadi 2 jutaan. Gue curiga dong, kok ada iPhone harganya 2 juta? Gue kira itu iPhone bajakan versi China.

Tapi ternyataaaaa... Gue yakin itu iPhone hasil nyopet. Soalnya, dia nggak bisa ngasih box dan kelengkapan lainnya. Dan yang paling penting, tuh iPhone masih kena iCloud Lock, di mana yang bisa buka kuncinya adalah pemilik aslinya. Jadi, selama iCloud Lock belum bisa dibuka, si pemilik masih bisa dengan mudah nemuin iPhone itu via GPS. Wah.. Gak lucu banget kalo gue ditangkep polisi China cuma gara-gara dianggep sebagai penadah hape colongan. Gue pun menolak penawaran mas Kanibal itu, kemudian dia terlihat tersinggung, lalu ngedorong gue, dan dia lari. Indah sekali hari pertama gue di China.

Kendala Bahasa
Gue kira, dengan menguasai bahasa Inggris secara baik itu bisa memudahkan gue buat pergi ke penjuru manapun di dunia. Tapi ternyata, pemikiran itu berubah ketika gue sampai di China. Begitu sampai di China, gue sangat kesusahan buat nemuin orang yang bisa berbahasa Inggris. Semacam 1 banding 100. Misalpun nemu orang yang bisa berbahasa Inggris, logatnya Chinglish (Chinese English) banget, di mana perlu kecerdasan ekstra untuk mengerti yang dia maksud. :(

Bahkan, sebagian staf di hotel yang gue tempatin pun, susah buat nemuin orang yang bisa berbahasa Inggris dengan baik loh. Jadi, ceritanya, malem-malem gue laper. Gue nelpon resepsionis buat mesen makanan. Gue bilang, "Can I order some food?" Dia jawab, "No." Terus, gue jawab lagi, "Why?", jawaban dari dia berikutnya adalah, "Ni xian wen toajdfoajedlkfjasdf werahdfalkjad." Gue pun nutup telpon dan milih buat lompat ke sini pake parasut.



Pemandangan depan kamar gue. Bisa lompat kalo udah lelah sama hidup.

Selain kendala bahasa lisan, ternyata di China, sebagian besar tempat usaha menggunakan tulisan China. Jadinya, gue nggak ngerti yang gue masukin itu restoran atau rental PS. Itu adalah hasil dari kebijakan pemerintah China, di mana waralaba/tempat usaha dari luar negeri yang mau membuka cabang di China, harus mau memakai branding China. Pokoknya, China itu negara yang sebenarnya keren. Negara yang sangat menjaga identitasnya, dan tidak mau banyak terpengaruh negara luar. Mereka tidak mau "menjual" negaranya agar bisa dianggap maju. Dengan kebijakan semacam itu, akhirnya, gue pun milih buat makan di tempat yang sudah pasti-pasti aja, dengan menebak logo produknya. Di titik ini, gue ngerasain beratnya hidup orang bisu, tuli, dan sekaligus buta huruf. Sad.


Ini nggak mungkin panti jompo, kan?

Tapi ada hal lucu juga kalo mengingat orang di China banyak yang nggak ngerti bahasa Inggris. Yang efeknya adalah, banyak orang sana yang make atau jualan kaos berbahasa Inggris tanpa ngerti artinya apa.





Gue kira, kaos semacam itu cuma ada di 9gag aja. Ternyata emang beneran ada di China. Kocak! :)))

Lalu Lintas
Awalnya, gue kira lalu lintas di Shanghai bakal sekeren di Singapura atau Hongkong. Di mana pengendaranya tertib-tertib, ada Metro yang bakal mudah nganter kita ke semua tempat di kota itu. Kenyataannya, hal semacam itu enggak terjadi di Shanghai.

Soal taksi, pas di sana gue nemuin supir taksi yang nggak mau pake Argo, alias nembak tarif (sounds familiar). Lalu, soal pengendara motor di Shanghai, mungkin mirip sama sebagian pengendara motor di Indonesia. Suka berkendara ke mana-mana tanpa helm, atau nerobos lampu merah.

Ngopi dulu di tengah jalan, ah~

Oiyah, sepeda motor di Shanghai, nggak seperti motor di Indonesia. Kalo di Indonesia, motor itu seperti benda yang bisa dibanggakan buat dapetin cabe-cabean. Di China, motornya cuma ada 2 tipe:

- Skuter matic
- Skuter electric

Di mana, bentuk motornya ya bakal sangat mengenaskan. Setiap ada bagian yang patah, bakal dilakban doang. Yang penting mah, bisa jalan, nggak buat bangga-banggaan atau balapan.





Hayuk Dek, kita jalan-jalan keliling kota. Adek masuk ke Box, ya!

Internet Menyiksa 
Ini yang sempat gue lupa saat mempertimbangkan untuk bepergian ke China. Ternyata, pemerintah China memblokir banyak banget website-website Sosial Media. Sehingga gue kesulitan buat berbagi momen di Twitter maupun Facebook. Hal itu beralasan, mungkin pemerintah takut ada terbentuk komunitas-komunitas yang bisa membahayakan posisi mereka. Seperti yang terjadi di revolusi Mesir beberapa tahun lalu. Berkat bantuan Facebook, rakyat Mesir mampu menggulingkan kekuasaan Hosni Mubarak. Sehingga, hampir segala akses internet penduduk di China, dimata-matai oleh pemerintahnya. Hiii..

Untuk bisa mengakses sosial media atau website yang di-block, gue terpaksa pake VPN. Lumayan ribet, dan internetnya leleeeet.. Duh.. Wajar deh kalo orang-orang di China susah ngikutin perkembangan tren di sosial media dunia. Besyukurlah wahai kita para pengguna sosial media yang tinggal di negara yang masih bebas berkicau. Tapi jangan sampai kebebasan kita kebablasan ya. Nanti internet kita difilter juga loh. Hiiii..

Sikap Masyarakat Sana
Mungkin ini cuma di Shanghai, yang memang sebuah kota besar di sana. Orang-orang terlihat individualis dan kurang ramah (kayaknya penduduk di hampir setiap kota besar begitu juga). Sebagai contoh, sebagian orang yang mau gue tanyain soal jalan, begitu paham kalo gue nggak bisa bahasa China, mereka langsung berlalu begitu saja. Nyesek sih..

Selain itu, gue juga agak sedih sama kecuekan orang-orang di sana. Jadi, ceritanya sore itu gue mutusin buat jalan kaki mengelilingi pedestrian area untuk ngambil foto-foto gedung di atas. Sebelum gue berangkat, gue taruh kaca mata minus gue di kantung bagian dalam kemeja. Lalu, saat gue lagi jalan kaki, gue denger suara "Klothak!", semacam benda jatuh gitu. Saat itu ada banyak orang di belakang gue juga, gue kira hape mereka jatuh atau semacamnya. Gue lanjut jalan.

Begitu gue nemu spot asyik buat motret, gue rogoh kantung kemeja gue buat ngambil kacamata. Dan.. kacamatanya enggak ada.


Dear desainer kemeja ZARA, gue pengin nonjok muka lo karena ngedesain kantung mubadzir begini.

Gue jadi inget momen sebelumnya, pas gue denger suara "Klothak!" itu. Iya! Itu pasti kacamata gue! Tapi kok orang-orang di belakang gue nggak ada yang mungutin atau manggil gue sih? Apa segitu cueknya mereka kepada sesama? Akhirnya, sejak hari itu, mata gue burem. Gue balik hotel, memutuskan untuk beli tiket pesawat balik secepatnya. :(

Oiyah.. Selama di sana, gue ditemenin jalan-jalan sama sahabat gue, namanya Ayas. Dia adalah seorang mahasiswi PhD di Universitas Manchester, UK. Cerdas? Iya. Gila? Iya banget.


Nih, kelakuan Ayas waktu main di sana. Dia melakukan tarian pemanggil hujan di kuil. Dan berkat skill-nya yang keren dalam hal fotografi, foto gue selama di China, jadinya begini:

Lupakan soal fokus, kuilnya bagus!

Apakah selama di China, gue cuma berduaan ama dia? Enggak. Yang bener, gue nemenin dia jalan-jalan sama pacarnya.

Gue memutuskan buat balik duluan, karena gue udah nggak tahan melihat kemesraan mereka. Gini amat rasanya hidup tanpa pasangan, bisa jalan-jalan, tapi tetep kesepian. Hiks.

Nah, itulah beberapa cerita gue mengenai kota Shanghai. Buat lo yang mau main ke China, gue saranin mending ke Beijing aja. Di sana udaranya seger, suhunya dingin, dan banyak tempat-tempat bersejarah seperti Tembok Besar China, atau Forbidden City. Recommended banget. Kalo ditanya, apakah gue menyesal udah jalan-jalan ke Shanghai? Tentu tidak. Semua kembali ke tujuan awal, gue sengaja ke sana untuk mencari keresahan, bukan kesenangan.

Dari perjalanan kemarin, gue belajar. Memang yah, kadang sesuatu itu cuma indah untuk dikagumi, bukan dikenali lebih jauh. Karena begitu kenal lebih jauh, rasa kagum bisa hilang gitu aja. Hal ini nggak cuma berlaku untuk sebuah kota, bisa juga berlaku bagi seorang idola atau gebetan. Ada gebetan yang hanya menyenangkan saat sedang pendekatannya, tapi saat dimiliki, hambar-hambar aja.

Ada yang pernah ke China juga? Share pengalaman lo di kolom komentar, ya!

Sabtu, 10 Oktober 2015

Tip Agar Tidak Tertipu Saat Berbelanja Online

Gue adalah jomblo yang udah nggak percaya lagi sama cinta. Sehingga, gue pun sering ngerasa kesepian saat malam minggu tiba. Berawal dari keresahan itu, beberapa bulan yang lalu gue pun mencoba untuk membeli “teman” di online shop. Yang gue beli adalah sebuah robot. Iya, robot. Robotnya nggak berbentuk Aura Kasih kok, tapi mirip sama robot perang. Awalnya, gue keracunan iklan robotnya di Youtube. Robot itu bisa joget, bisa karate, dan gue berharap, dia bisa gue suruh beli mie instant di warung.

Setelah penjual mengkonfirmasi barang itu masih ada, gue pun transfer duit ke penjualnya, dan gue kirim bukti transfer via chat. Setalah uangnya sukses ditransfer, mendadak tuh orang nggak bisa gue kirimin chat lagi, gue coba telpon pun nggak aktif nomornya. Gue sebel. Gue berasa di-PHP-in oleh gebetan yang udah banyak gue kasih pengorbanan. Saat itu, gue doain si penipu giginya bisulan.

Nah, berbekal dari pengalaman itu, gue pun segera mencari tau tentang cara-cara agar belanja online lebih aman. Gue nggak mau ketipu lagi, duit ilang, barang nggak datang. Dari apa yang gue pelajari, gue menemukan beberapa tip agar kita nggak ketipu saat belanja online. Karena gue adalah sosok pria tampan, baik, dan bijaksana, gue bakal berbagi tip yang udah gue pelajari ini kepada kalian. Here they are:

Jangan Tergiur Harga
Buat kalian yang suka nyari hape di market-place online, atau suka nongkrongin Home Facebook, pasti sering nemuin ada orang jual smartphone sekelas iPhone dengan harga 1,5 juta – 2 juta. Penjualnya sih berdalih tuh barang black-market alias tanpa bayar pajak cukai, makanya murah.



Tapi kalo mau lebih jeli lagi untuk mengenali barang itu, silakan cek di website officialnya, iPhone 6+ paling murah mah 9 jutaan. Tanpa pajak tuh harganya segitu. Nah, kalo tuh orang jual iPhone seharga 1,6 juta, artinya si penjual ngesubsidi pembeli sebesar Rp.7,4 juta. Wah.. Nih orang kalo nggak nipu, mungkin kebanyakan duit dan pengin berbaik hati kepada orang-orang yang berkantong pas-pasan yang pengin punya iPhone. Mulia sekali. Atau mungkin, iPhone yang dia jual itu terbuat dari tanah liat.

Hati-hati Saat Membeli Barang Bekas
Untuk kita-kita (termasuk gue), saat pengin sebuah barang yang harganya nggak sesuai dengan kodrat dompet, biasanya akan memilih barang bekas karena terjamin keasliannya, cuma pernah dipake orang lain aja.

Masalahnya, membeli barang bekas secara online itu ada resikonya juga. Secara, kita nggak sempet megang-megang dulu tuh barang. Kita nggak bakal tau gimana keadaan tuh barang. Apa aja yang udah rusak, atau apakah barang itu bekas dipakai, atau bekas diinjak gajah.

Jadi, saat lo berpikir untuk tetap membeli barang bekas, lo bisa ikutin cara gue. Pastiin untuk lebih jeli lagi sebelum membeli. Misal, tanya-tanya secara lebih detail mengenai kondisi barang kepada penjual. Apa aja kekurangan dari barang itu, sudah berapa lama barang itu dipakai, masih adakah surat garansi dari toko, dll. Biar lebih aman lagi, mintalah penjual memberikan garansi, apabila ternyata kondisi barang bekas yang dibeli tidak sesuai dengan yang dijelaskan, penjual harus bersedia mengembalikan uangnya (refund).

Reputasi Penjual
Untuk yang suka belanja secara online, sebelum memutuskan untuk transfer, pastikan dulu reputasi penjual memang baik. Cara ngecek reputasi seller di antaranya, dari testimoni pembeli-pembeli yang udah pernah beli di online shop dia.

Sayangnya, masalah testimoni ini pun sekarang udah banyak yang curang dengan cara membuat beberapa akun baru dan menulis testimoni palsu. Jadi, cara paling valid buat mengecek reputasi penjual adalah dari rekomendasi teman dekat yang pernah belanja di online shop yang sama. Ribet? Emang. Tapi seenggaknya duit aman. Mending ribet pas beli, daripada ribut pas ketipu.

CoD
Kepanjangan dari CoD adalah (Cash on Delivery), alias barang dibayar setelah barang dikirimkan. Tapi pada prakteknya, CoD di sini diartikan sebagai penjual bertemu dengan pembeli di dunia nyata. Setelah bertemu, mereka nggak jadian, tapi pembeli ngecek barang yang akan dibeli secara langsung. Saat pembeli merasa barangnya bener-bener cocok, baru deh pembeli ngasih duit ke penjual. Metode ini memang paling aman (kecuali si seller yang diajak ketemu ternyata anggota sindikat begal antar benua), tapi metode ini memang paling ribet. Kurang oke di zaman serba online ini.

Rekening Bersama
Mungkin ada sebagian dari kalian yang bingung apa maksudnya rekening besama. Bukan.. Bukan berarti kita harus bayar belanja pake rekening kelurahan. Gini penjelasan dari “rekening bersama”:

Pembeli membeli sebuah barang dari sebuah online shop, pembeli lalu mengirimkan uangnya ke “Rekening Bersama” ini. Penjual, mengirimkan barang kepada pembeli, lalu setelah pembeli mengonfirmasi barang yang dia terima sesuai dengan yang dia pesan, si “Rekening Bersama” ini akan mengirim uang dari pembeli kepada penjual. Nah, kalo si pembeli komplain, misal mau beli hape tapi yang diterima adalah sabun, maka si pembeli bisa agar duitnya ditahan dulu sama si Rekening Bersama sampai ada penyelesaian masalah itu secara win-win solution. Jadi, metode Rekening Bersama ini bikin pembeli merasa aman untuk belanja.

Kebetulan, fitur semacam itu udah ada di sebuah aplikasi marketplace yang sangat praktis, bernama Shopee. Jadi, Shopee ini adalah sebuah marketplace online yang berbasis aplikasi smartphone. Iya, lo bisa belanja maupun jualan dengan mudah via hape lo doang. Belanja maupun jualan, cukup klik-klik-klik dalam kurang dari satu menit di hape lo.



Fitur Shopee Guarantee adalah nama lain dari sistem rekening bersama seperti yang gue jelasin di atas. Jadi, pas lo nemu barang yang mau lo beli, tinggal klik beli, lalu lo transfer duitnya ke rekening Shopee. Inget, transfer duitnya ke rekening Shopee, bukan langsung ke rekening penjual untuk menghindari penjualnya kabur setelah menerima duit. Setelah Shopee mengonfirmasi bahwa duit lo udah masuk ke rekening Shopee, Shopee akan meminta penjual untuk mengirimkan barangnya ke elo. Begitu barang lo terima dan lo nmengonfirmasi ke Shopee bahwa tuh barang sesuai dengan barang yang mau lo beli, Shopee baru akan menransfer uang lo ke penjual. Aman banget kan?!



Serunya lagi, saat lo nemu barang yang menarik untuk dibeli, lo bisa nanya-nanya dulu ke penjual via chat yang ada di aplikasi Shopee. Lo bisa nanya macem-macem mengenai produk yang lo mau itu kepada si penjual, sehingga lo bisa lebih yakin buat beli tuh barang atau tidak. Selain chat, ada juga fitur sosial commerce yang bakal bikin lo bisa follow-followan, nge-like, dan lain-lain. Yang pasti, fiturnya ini bukan buat modus-modus nyari jodoh ya.



Buat para penjual, Shopee menyediakan fitur Sell Smart. Jadi, fitur ini akan menjadi semacam asisten lo dalam berjualan di Shopee. Fitur ini akan membantu mengorganisir orderan lo, lalu juga membantu lo mengatur daftar konsumen lo biar lebih mudah ngelayanin, dan serunya lagi, lo juga bisa ngecek gimana laporan penjualan lo. Apakah ada item yang penjualannya kurang oke, ataukah ada item yang penjualannya oke banget sehingga lo harus rajin re-stock. Semua udah diurusin sama fitur ini. Jadi, lo nggak perlu pusing ngitung ini-itu lagi.


The best part of this application is, it is FREE!! Baik pembeli maupun penjual yang nitipin “toko”nya di Shopee, tidak akan dipungut biaya apapun. Nggak ada biaya bulanan, maupun harian, ataupun potongan dalam tiap transaksi. Semua keuntungan, buat elo. Tuh kan.. Berjualan zaman sekarang, nggak perlu lagi nyewa lahan. Dagangan lo pun bisa dilihat oleh jutaan orang di dunia. Udah belanja aman, jualan mudah, seru kan? Sebenarnya masih banyak lagi fitur menguntungkan lainnya yang dikasih sama Shopee. Makanya, buruan download aplikasi Shopee di SINI (Android/iOS) dan mulai belanja atau jualan yuk!



Nah, itu aja beberapa saran gue buat kalian yang pengin belanja aman di internet. Btw, lo pernah ketipu pas belanja online, nggak? Coba ceritain di kolom komentar dong!

Selasa, 29 September 2015

Jangan Berkomitmen Karena Alasan Ini..


Tiap lebaran, tiap arisan keluarga, tiap ada saudara nikahan, lo (yang udah dianggap dewasa) pasti gerah sama pertanyaan "Kapan nikah?"

Mungkin pertanyaan itu buat para penanya cuma basa-basi semata. Tapi buat lo yang usianya memang udah layak nikah, namun belum juga punya pasangan (atau punya pasangan tapi dia nggak ngasih-ngasih kepastian), pertanyaan itu bisa bikin resah. Apalagi kalo pertanyaan semacam itu diulang-ulang terus setiap ketemu saudara. Lama-lama bikin kita pengin pindah ke Mars dan  belajar membahagiakan diri sendiri.

Tenang.. Di postingan ini, gue mau berbagi tentang beberapa alasan untuk tetap sendiri dulu daripada terjebak hubungan palsu. Iya, jangan sampai lo mencoba berkomitmen (pacaran/nikah) karena alasan-alasan di bawah ini, karena efeknya bisa bahaya:

Kesepian
Serunya hidup saat punya banyak teman buat diajak ke mana-mana. Berbagi canda tawa, maupun berbagi perihnya luka. Tapi kadang kesenangan itu hilang, saat mereka mulai jatuh cinta. Karena tak akan ada lagi teman yang sama, saat mereka sedang dimabuk cinta. Wajar, setelah mereka pacaran, mereka punya prioritas baru yang kadang lebih penting dibanding pertemanan. Efeknya apa? Lo kesepian.

Dari yang biasanya punya temen buat nongkrong, jadinya nongkrong sendiri. Dari yang biasanya punya temen buat ngegame, jadi ngegame sendiri. Dari yang biasanya boker bareng, punggung-punggungan, jadi cebok sendiri. Pengalaman semacam itu memang pedih. Hidup berasa punya lubang besar yang terasa menganga, dan hampa.

Dalam keadaan kayak gini, kadang ada dorongan buat nyari pacar biar sama-sama punya pasangan kayak teman-teman dan nggak lagi kesepian. Apakah itu langkah yang bijak? TIDAK.

Bila kesepian adalah alasan lo untuk berkomitmen, maka saat lo nggak kesepian lagi, lo bakal dengan mudah ninggalin komitmen itu. Kenapa? Karena saat lo nggak kesepian, lo nggak perlu lagi pasangan. Kasian, si pacar cuma jadi cadangan pengusir kesepian. Lo tega?

Coba baca tulisan gue YANG INI, mungkin mencerahkan soal kesendirian.

Dikejar Umur
Seperti keresahan yang gue tulis di pembuka tulisan ini. Omongan saudara, orang tua, yang menanyakan tentang pasangan hidup di saat lo udah dianggap dewasa memang mengganggu. 

Gue sering banget denger temen-temen (terutama cewek) yang seumuran gue nyeletuk, "Pokoknya siapapun yang dalam waktu dekat berani datang ke rumah dan melamar aku ke orang tuaku, bakal aku nikahin."

Kadang iba sama orang-orang yang kayak gini. Ya mending kalo yang ngelamar dia manusia, kalo Jenglot gimana?

Tapi apakah segera menikah adalah solusi untuk masalah dikejar umur itu? TIDAK.

Buru-buru nikah dengan orang yang belum benar-benar kita kenal pribadinya itu seperti membeli kucing dalam karung. Kita nggak tau apa yang akan kita dapatkan. Syukur-syukur, dapetnya kucing persia yang berbulu lebat dan lucu, nah kalo dapetnya kucing garong? Kan sayang.

Mana rencananya bakal selamanya menjalani hidup sama orang itu, pula. Kata nyokap gue, orang yang salah milih pasangan hidup, maka akan salah juga caranya dalam menjalani hidup. Pasangan yang baik, yang selalu memberi dukungan, dan doa, akan memberikan kehidupan yang lebih baik. Namun pasangan yang selalu cuek, kasar, dan terlalu dominan, akan membuat hidup semakin penuh beban. Bayangin seramnya punya pasangan semacam itu sampai lo tua.

Masih minat, asal nikah buru-buru?

Pengin Move On
Ini yang bikin gue kadang gemes. Setelah patah hati, daripada galau, beberapa orang memilih untuk segera jadian lagi. Mereka percaya, dengan punya pacar baru, mereka bakal segera lupa kepada orang dari masa lalu. Padahal... TIDAK.

Segera jadian, mungkin akan membuat lo seneng lagi, bisa ketawa-ketawa lagi, dan bisa ngerasa lebih baik. Tapi emangnya harus pacaran ya, biar bisa gitu lagi?

Sebaiknya, lo kenali dulu kebutuhan orang patah hati itu apa aja. Seperti, teman buat berbagi uneg-uneg di hati, bahu untuk menangis, dan kalimat penyejuk hati. Di mana, itu semua bisa didapat dari teman-teman yang bisa mengerti. Nggak selalu dari pacar.

Kenapa gue saranin untuk nggak jadian setelah lo putus? Karena kenyamanan yang lo rasain dari pasangan baru lo itu biasanya cuma bakal bertahan sesaat. Iya, saat hati lo masih cidera aja. Nanti begitu hati lo udah sembuh lukanya, lo nggak ngerasa perlu pendengar lagi, nggak ngerasa perlu bahu untuk bersandar lagi, mungkin lo bakal ngerasa pasangan baru lo ini nggak ada gunanya. Karena sejak awal, yang lo rasain ke dia itu bukan cinta, tapi kenyamanan sesaat aja. Akhirnya ya, kalo udah bosen, ilfeel seketika.

Jahat ya?

Kasian
Ditelpon gebetan, diajak jadian dengan alasan dia bentar lagi mati karena penyakit ambeien di otak. Terus karena lo kasian, lo terima deh cintanya. Apakah itu alasan yang tepat buat jadian? TIDAK.

Jadian cuma karena kasian, jelas sebuah hubungan yang akan berjalan secara pincang. Cinta itu kan membutuhkan ketulusan, kepercayaan, dan kenyamanan. Kalo jadiannya karena kasian, maukah lo nyium dia dengan penuh rasa cinta? Di saat dia belum gosok gigi selama 5 bulan?

Gue yakin, lo nggak bakal ngerasa nyaman untuk menggenggam tangan, memeluk, maupun mencium orang yang nggak benar-benar lo cintai. Karena rasa kasian dan rasa cinta itu beda. Cinta itu ingin memiliki, kasian itu ingin bantu. B-e-d-a. Endingnya apa? Secara nggak sadar, lo udah nipu pasangan lo itu. Cinta yang lo beri ke dia, palsu.

Sedih ya?

Yang mau gue tekankan di tulisan ini sih, "Jangan makan saat terlalu lapar, makanlah sebelum lapar".

Hah? Dari bahas soal hubungan kok jadi bahas kuliner. Lo mabok solar, Litt?

Nggak.. Jangan telan kalimat itu secara arti harfiahnya. Itu cuma analogi. Maksudnya begini, kalo lo makan saat sedang terlalu lapar, tumis beton pun terasa enak. Lo nggak bisa bedain lagi mana makanan yang bergizi dan mana yang beracun. Semua bakal lo makan karena perut udah memaksa untuk diisi.

Nah, begitu juga dalam hubungan. Jangan memilih pasangan saat lo sedang putus asa. Karena, dalam keadaan seperti itu, lo akan melupakan banyak pertimbangan penting dalam memilih pasangan. Semuanya lo anggap bagus. Akhirnya apa? Bisa aja lo ngambil pasangan yang salah. Yang nggak berkualitas. Yang hanya akan menyenangkan lo di awal, tapi merepotkan lo di belakang. Mending kalo komitmennya cuma pacaran. Lha kalo udah nikah? Kebayang nggak, seremnya menikahi orang yang ternyata suka berak di jendela? Seumur hidupnya. Hiiii..

Selalu percaya dan sabar aja. Tuhan akan memberikan yang kita BUTUH, bukan yang kita MAU. Dan soal jodoh, biasanya Tuhan akan memberikan pasangan yang memang PANTAS untuk kita dapatkan. Buat lo yang doyan nongkrong di diskotik, ya susah buat dapet pasangan anak pesantren. Buat lo yang suka bergaul sama cabe-cabean, ya susah buat dapet pasangan wanita karier. Intinya, pantaskan diri dulu, lalu biarkan Tuhan memilihkan yang pantas untuk menjadi pasanganmu. Jangan protes karena lo nggak laku-laku, di saat lo ngabisin waktu cuma di kolong tempat tidur melulu.

Ciao!

Kamis, 24 September 2015

Yuk, Belajar Nulis Kreatif Bareng Gue! 4 Pertemuan, Gratis Semua!

Halo.. Halo..
Maaf teman-teman, akhir-akhir ini gue jarang ngeblog. Tapi gue nggak mau disebut penulis murtad, karena di luar ngeblog, gue juga masih sibuk di dunia tulis menulis juga. Bulan kemarin, gue full sibuk syuting film Relationshit, yang diangkat dari cerita di buku ketiga gue. Bulan ini, gue sibuk nulis skenario buat serial baru. Hihihi..

Kalo dipikir-pikir, seru kan ya.. Melakukan hal yang awalnya adalah hobi, tapi ternyata bisa ngasilin duit begini. Soalnya, sesibuk-sibuknya gue garap tulisan di NYUNYU, garap skenario serial, garap skenario film, nulis buku, rasanya nggak ada capek-capeknya tuh. Mungkin, karena gue seneng mulu setiap ngelakuin aktivitas itu.

Nah, kalo lo tertarik buat melakukan hal yang serupa karena punya minat untuk menjadi penulis, gue mau banget bantuin lo. Kebetulan, gue dikasih kesempatan serta media buat berbagi ilmu oleh Loop. Intinya, gue diajak buat berbagi ilmu menulis gue kepada semua orang yang ada di Indonesia, maupun dunia.


Cara ikutannya nggak ribet kok. Gampang. Lo nggak perlu pergi ke mana-mana. Cuma perlu nyiapin laptop/gadget di rumah/di mana aja. Terus, lo buka deh URL: http://loop.co.id/channel Gue streaming kelas menulis gue di situ di tanggal dan jam sesuai jadwal. Iya, ini semacam kegiatan belajar bareng bagi para kaum LDR.

Gue bakal ngejalanin total 4 pertemuan di kelas menulis dengan 4 tema yang berbeda-beda, seperti ini:

Pertemuan #1: Yang Harus Dipersiapkan Sebelum Menulis (28 Agustus 2015)
Pertemuan #2: Memulai Tulisan Dengan Baik (25 September 2015)
Pertemuan #3: Membuat Pembaca Masuk ke Dalam Imajinasi Kita (16 Oktober 2015)
Pertemuan #4: Pentingnya Mengedit Tulisan dan Publikasi (6 November 2015)

Dengan mengikuti keempat kelas ini, gue berharap lo nggak bingung lagi gimana membuat tulisan dari nol sampai selesai. Silakan catet, atau taruh di reminder lo, biar nggak ketinggalan kelas-kelas berikutnya ya.

Bulan kemarin gue udah ngejalanin kelas pertama yang membahas tentang beberapa hal yang harus dipersiapkan sebelum menulis. Kalo lo ketinggalan kelasnya, lo bisa nonton recorded videonya di sini:


Selain membahas tema yang ada, gue juga bakal memberikan feedback atas tulisan teman-teman yang udah submit ke LOOP. Setelah itu, tetep ada sesi tanya-jawab di kelas ini. Caranya gampang, cukup tweet aja pertanyaan lo, dan mention ke gue (@shitlicious) atau @Loop_ID dengan hastag #LoopKePo. Gue bakal jawabin satu per satu pertanyaan lo di sana. Seru kan?!



Nah, kelas berikutnya adalah besok malam pukul 19:00. Biar lo nggak ketinggalan lagi, pastiin pantengin http://loop.co.id/channel di jam itu ya! Kapan lagi bisa belajar nulis gratis, dan bisa nanya-nanya langsung! Mari berkarya! Muach!

Rabu, 09 September 2015

5 Masalah Hidup Yang Bisa Diatasi Oleh Smartphone

Dua belas tahun yang lalu, tepatnya saat gue masih duduk di meja STM, memiliki hape adalah hal yang sangat jarang ditemui bagi orang-orang di kota gue. Dan saat itu, Nokia 3310 yang udah sangat canggih pada zamannya. Punya tuh hape, pasti pengin pamer ke mana aja. Biasanya tuh hape dikalungin di leher, atau ditaroh di kantong depan biar nongol bagian layarnya, sehingga orang-orang takjub, “Wow! Dia punya hape Nokia 3310!”. Dan kalo lagi terjebak tawuran, ngelemparin Nokia 3310 ke jidat lawan, niscaya akan membuatnya gegar otak sesaat.


Padahal, fitur hape zaman itu tuh belum secanggih zaman sekarang. Komunikasi cuma bisa dilakukan via dua cara: Telpon dan SMS. Udah gitu, tarifnya juga nggak semurah sekarang. Bayangkan, mengirim 1 SMS doang (iya, teks doang), tarifnya adalah Rp. 350. Itulah kenapa pelaku LDR di zaman itu masih sangat sedikit. Soalnya, kalo setiap hari mereka ngirim 100 SMS aja buat ngobrol apa pasangan, niscaya dalam setahun mereka bakal makan betis sendiri buat bertahan hidup tanpa uang.

Tapi di zaman sekarang, hape udah canggih, bahkan sebutannya bukan lagi Handphone, melainkan Smartphone. Iya, hape zaman sekarang itu emang pintar-pintar. Bahkan, kadang lebih pintar dibanding penggunanya. Di postingan kali ini, gue mau bahas tentang gunanya Smartphone dalam mengatasi masalah hidup para penggunanya. Here they are:

Membantu pekerjaan
Dengan dukungan OS yang canggih, smartphone zaman sekarang udah bisa disebut sebagai komputer kantong. Banyak aplikasi kantoran (Excell, Word, Powerpoint) yang bisa dijalankan di smartphone juga.


Sehingga, penggunaan Smartphone ini benar-benar sangat membantu pekerjaan orang tanpa perlu menenteng CPU di punggung mereka.

Membantu melawan kebosanan
Semua smartphone pastinya juga memiliki market/download center sendiri, sehingga penggunanya bisa dengan bebas memilih aplikasi apaaa aja yang mereka mau. Dan di saat bosan melanda, pengguna bisa milih, mau main game atau dengerin lagu, atau nonton video di Youtube. Zaman dulu mah, kalo lagi bosen ngantre di bank, paling dengerin ringtone polyponik di hape jadul.


Atau, bikin ringtone.

Mempermudah komunikasi
Ini yang membuat Smartphone semakin digandrungi. Berbeda dengan hape jadul yang cuma bisa ngirim SMS dan nelpon, Smartphone mengandalkan internet untuk mempermudah komunikasi kita. Bisa VoIP (telpon via internet), maupun Video Call sehingga kita bisa ngeliat langsung wajah orang yang kita ajak bicara meskipun berada di tempat yang berbeda. Kalo masih suka obrolan teks, bisa pilih ratusan aplikasi chatting yang juga mengandalkan internet. Tarifnya? Nggak mahal kayak dulu lah. Internet mempermudah dan mempermurah komunikasi.

Mempermudah proses belajar
Zaman dulu, untuk nyari info tentang sebuah teori, kita harus ke perpustakaan, lalu mengobrak-abrik rak-raknya untuk menemukan buku yang dimaksud. Tentu hal itu nggak cuma boros tenaga, tapi juga boros waktu.

Zaman sekarang, berkat internet yang udah dengan lancar mendukung smartphone, mencari info itu semudah: Ketik->klik search->nemu hasilnya. Makanya, smartphone memang sangat mempermudah proses belajar penggunanya.

Nggak cuma soal akademis. Gue, sebagai orang baru di Jakarta, akhirnya bisa mengenali jalanan Jakarta juga berkat smartphone. Gue berani main ke sana-sini berkat aplikasi maps (GPS) di smartphone gue, sehingga setiap kali gue jalan, gue nggak perlu berhenti dan nanya-nanya penduduk lokal tentang jalur yang harus gue tempuh untuk pulang. Dan alhamdulillah, gue nggak pernah nyasar sampai Azkaban.

Menjadi asisten pribadi
Nggak punya pacar di zaman sekarang, tidak semenyiksa zaman dulu. Rasa kesepian dengan mudah bisa dihapuskan oleh smartphone. Mau nyari temen, tinggal pake aplikasi sosial media, mau nyari hiburan, tinggal buka Youtube atau game.

Nah, kalo kamu hidup sendiri, pastinya kamu sering lupa buat ngelakuin sesuatu karena nggak ada yang ngingetin, kan?

Tenang, Smartphone bisa menjadi asisten pribadimu setiap saat. Ada aplikasi reminder maupun schedule di smartphone yang akan mengingatkanmu tentang agenda-agenda yang nggak boleh terlewatkan. Dengan begitu, meskipun sedang hidup sendiri, kamu nggak akan kesepian lagi. Ada yang ngingetin makan, ibadah, dan ngingetin mantan.

Nah, itu adalah lima hal yang bisa smartphone lakukan untuk memperingan hidup kita. Sebenarnya masih banyak hal lain lagi yang bisa dilakukan oleh smartphone. Tapi nggak mungkin bisa gue bahas semua di sini.


Dengan menulis postingan ini, gue harap pengguna smartphone di negeri ini semakin meluas, sehingga orang-orang di daerah pun bisa menikmati manfaat smartphone. Dan mereka tidak tertinggal dari orang-orang kota. Sudah waktunya kita mengajak semua orang untuk merasakan manfaat kemajuan teknologi juga. 

Jadi, buat yang belum berani nyicipin smartphone, ayo deh coba dari sekarang. Nggak serem kok. Dan smartphone itu nggak selalu mahal. Ada buanyak pilihannya yang bisa kamu sesuaikan dengan keperluanmu. Akan lebih baik lagi buat kamu yang udah punya smartphone, beliin juga ortumu smartphone. Biar semakin dekat dengan keluarga, meskipun secara fisik tak bersama. Jangan takut buat upgrade ke hal yang lebih baik. Mari kita upgrade Indonesia.

Sabtu, 05 September 2015

Peluang Karier itu Ada di Mana-mana. Asal Kita Jeli Melihatnya.

Saat gue baru pindah di Jakarta, gue nemuin culture shock yang lumayan bikin gue keliatan kayak orang yang kekurangan garam beryodium. Keseringan bengong, heran, dan ngileran.

Salah satunya, gue pernah kejebak hujan pas abis meeting di sebuah cafe area Senayan. Sejam lebih gue nunggu, hujan nggak kunjung reda. Karena hujan terlampau deras, gue nggak bisa nyari taksi di pinggir jalan dong. Gue cuma bengong nungguin hujan di emperan café. Sampai akhirnya, datang seorang anak kecil nyamperin gue sambil bawa payung.

“Mau pergi ya bang?” Tanyanya sambil mengelap wajahnya yang basah. Gue lumayan heran, dia bawa payung, tapi kok payungnya nggak dipake?

“Iya dek.. Mau nyari taksi, tapi masih ujan.”

“Ayo bang, aku anter ke pinggir jalan pake payung sampai nemu taksi.” Anak itu dengan ramah menawarkan bantuan.

“Serius?” Gue agak kaget melihat tawaran anak itu. Gue kaget karena konon, sebagian orang Jakarta itu individualis. Susah buat bantuin orang lain. Terlalu sibuk sendiri.

“Serius lah! Ayo!” Jawab bocah itu sambil membuka payungnya.

Gue pun meninggalkan café menuju pinggir jalan. Bocah itu memayungi gue, tapi dia sendiri kehujanan. Gue ngerasa agak sungkan.

“Ayo Dek.. Kamu ikut payungan juga aja.” Gue tarik dia biar berdiri di bawah payung.

“Nggak apa-apa bang. Udah terlanjur basah nih.” Dia kembali menarik diri dan hujan-hujanan.


Kami menunggu taksi di pinggir jalan selama kurang lebih 5 menit, sampai akhirnya ada sebuah mobil taksi menghampiri kami. Gue segera masuk ke dalam taksi setelah bilang makasih, lalu menutup pintu. Tapi beberapa saat kemudian tuh anak ngetok-ngetok jendela taksi. Gue segera membuka jendela, dan bertanya,

“Ya dek?”

“Jadi 10 ribu bang..” Jawab anak itu kembali sambil ngelapin wajahnya yang penuh air hujan.

“He?” Gue bingung apa maksud anak itu sambil siap-siap megangin Rice-cooker. Jaga-jaga kalo dia mau malak pake senjata tajam, gue bakal rebus kepalanya.

“Iya.. Abang harus bayar 10 ribu buat ojek payungnya.”

Gue segera merogoh duit ceban dan gue kasih ke anak itu. Meskipun di dalam hati gue bertanya “WHAT THE HELL IS UMBRELLA-TAXI?”

Di jalan, gue nanya kepada Pak Sopir taksi, lalu beliau menjelaskan tentang jasa bernama ojek-payung itu. Jadi, ojek payung adalah usaha yang menawarkan jasa nganterin orang yang kejebak hujan ke titik tertentu dengan memakai payung agar tidak kehujanan. Well, gue nggak pernah nemu jasa semacam itu di Jogja. Wajar kalo gue sempet bengong pas ngira gue dipalak bocah.

Apa yang dilakuin anak kecil itu adalah bisnis yang muncul karena kejelian pelakunya dalam melihat peluang. Ada banyak lagi bisnis nyeleneh yang gue temuin di Jakarta yang lahir dari peluang. Misal:

Polisi Cepek
Kalo lo hidup di Jakarta, atau kota-kota besar yang tingkat macetnya udah naudzubillahimindzalik, lo pasti pernah nemuin orang yang berdiri di persimpangan jalan sambil niup-niup peluit dan sibuk ngatur jalan. Tapi dilihat dari pakaian dan tampangnya, tentunya dia bukan polisi. Di Jakarta, orang yang beraktivitas begini, sebutannya adalah Polisi Cepek. Mereka mengatur lalulintas di daerah-daerah rawan macet agar semua pengendara mendapatkan giliran untuk lewat.


Nah, mereka dapet duitnya dari mana?

Ya dari pengendara yang lewat lah. Emang sih, nggak ada tarif khususnya dan nggak wajib buat ngebayar mereka, tapi sebaiknya memang siapin duit receh buat mengapresiasi usaha mereka yang sudah melancarkan perjalanan kita sambil panas-panasan di jalan. Anehnya, selama gue jalan di Jakarta, gue lebih sering nemu Polisi Cepek ngatur jalan, dibanding Polisi cepak. Tapi setidaknya Polisi Cepek nggak bisa nilang lah.

Joki 3in1
Buat yang di luar Jakarta, gue jelasin dulu. Jadi, di hari-hari kerja (Senin-Jumat) ada aturan bernama 3in1 di beberapa jalan yang rawan macet seperti jalanan di area perkantoran Sudirman.

3in1? Apa itu?

Jadi, setiap pukul 7:00-10:00 pagi dan pukul 16:30-19:00, beberapa ruas jalan yang udah ditunjuk, hanya boleh dilewati mobil yang berpenumpang 3 orang atau lebih. Jadi, orang yang nyetir 1 mobil sendirian atau berdua, bakal ditilang.

Biar apa tuh?

Ya demi mengurangi jumlah kendaraan yang melewati ruas jalan itu, sehingga kemacetan bisa diminimalisir di area itu.


Nah, aturan itu menciptakan peluang bagi orang-orang kreatif di ibu kota. Kalo lo mau ke Sudirman di jam-jam berlakunya 3in1, biasanya sebelum sampai ke area itu lo bakal nemu banyak orang yang ngacungin jari di pinggir jalan seolah-olah mau numpang. Tapi tujuan mereka bukan mau numpang, tapi melengkapi jumlah penumpang di mobil lo biar jadi 3 orang, sehingga elo bisa lewat area 3in1 dengan selamat tanpa ditilang. Jadi, kalo elo masih baru di Jakarta, saat liat orang-orang ini, jangan langsung lo angkut dengan dasar mau berbaik hati.

Apakah jasa ini gratis? Enggak.

Para Joki 3in1 ini punya tarif khusus. Rata-rata sih 20 ribu/orang. Kalo bisa nawar, bisa lebih murah. Dulu gue pernah hampir dipalak saat tergiur untuk memakai jasa mereka.

“Gue harus bayar berapa mas?” Tanya gue sebelum mengizinkan joki itu masuk ke dalam mobil.

“50 ribu deh.. Berdua jadi cepek.” Jawab tuh orang dengan santai. Kaget dengan tarif yang dia patokin, gue pun jawab,

“Nggak jadi deh.. Mending gue ditilang ajah. Bye!”

Gue pun ngacir.

Tukang Parkir Liar
Gue yakin, di setiap kota pasti ada jasa seperti ini. Iya, dengan jumlah kendaraan terbesar ketiga di Asia, praktis penumpukan kendaraan terjadi di berbagai sisi negeri ini. Terutama di kota-kota besar yang tingkat mobilitasnya tinggi. Hal ini memberi efek samping: Jumlah tempat parkir yang disediakan di mal ataupun perkantoran tidak mencukupi.


Peluang ini pun terbaca oleh para orang-orang kreatif yang siap menjawab keresahan para pemilik kendaraan yang bingung mau parkir di mana. Akhirnya, mereka menyewa lahan untuk digunakan sebagai tempat usaha parkir mereka. Dan memang, usaha seperti ini nggak pernah sepi, karena minimnya tempat parkir legal. Penghasilan para tukang parkir liar ini juga cukup fantastis. Dengan tarif 2000 per motor, bayangkan kalo ada 1000 motor yang mereka parkirin sehari. Jadi 2 juta sehari. Iya, sehari. Beuh.. Gajinya ngalahin gaji resmi Bupati.

Penjual Tas Belanja
Ini adalah usaha paling absurd yang pernah gue temuin. Kalo lo pernah turun di halte Tosari, lalu melewati jembatan penyeberangan menuju GI di weekend, lo bakal nemuin penjual tas belanja branded. Iya, tas belanja branded, bukan tas branded.

Awalnya gue penasaran kenapa mereka jualan tas begituan, gue kira ya cuma buat nenteng barang kayak biasanya. Ternyata, mereka punya konsumen yang unik. Yaitu orang-orang yang pengin keliatan bergengsi dan belanja barang-barang branded. Intinya, orang-orang bakal beli tas belanja branded itu, terus diisi barang-barang nggak penting dari rumah buat ditenteng-tenteng di mall biar keliatan kayak orang kaya yang abis belanja produk-produk mahal. Duh gusti. Ada-ada aja yah, cara orang nurutin gengsi.

Semua pekerjaan di atas tentunya nggak memerlukan ijazah atau skill khusus yang harus dipelajari bertahun-tahun. Profesi itu dilahirkan oleh kejelian manusia untuk melihat peluang yang ada. Dan nyatanya, profesi-profesi itu bener-bener bisa menghidupi mereka.

Gue percaya, profesi yang laku itu biasanya profesi yang lahir dari keresahan. Saat kita mampu mengatasi keresahan itu, orang pasti akan mau “membeli” jasa kita. Contoh simpelnya, yang lagi booming sekarang, jasa ojek yang bisa dipesan pake smartphone. Itu adalah jawaban dari keresahan orang-orang yang mau bepergian pakai kendaraan umum. Banyak orang yang resah dengan resiko saat mengendarai kendaraan umum. Misal, takut kecopetan, takut diculik, atau malas nego-negoan sama tukang ojek yang suka malak tarif. Dengan menawarkan jasa pencarian tukang ojek menggunakan smartphone, pengguna jelas-jelas mendapatkan jaminan keamanan karena si driver jelas identitasnya, dan tarifnya flat. Jadi, penumpang tidak perlu takut dipalak.

Itu tadi cuma contoh hasil kreativitas orang yang pandai melihat peluang. Bayangkan kerennya ide pencipta jasa ojek online itu. Dia punya perusahaan jasa transportasi umum, tapi nggak perlu punya motor satu pun! Modalnya cuma kreativitas.

Nah, sekarang gue berharap kalian juga bisa seperti itu. Mampu melihat peluang yang ada, untuk diberdayakan menjadi pekerjaan yang tentunya bisa membantu sesama, serta bisa membuat kalian mendapatkan upah atas jasa yang kalian jual itu. Peluang ada di mana-mana, asalkan kita jeli melihat keresahan orang-orang di lingkungan kita. Jadi, jangan mengeluh nyari pekerjaan susah, mulailah berusaha menciptakan peluang sendiri.

If I don’t get a job, I’ll create one. What do you think?