Tampilkan postingan dengan label JalanJalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JalanJalan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Oktober 2015

Jalan-jalan ke Shanghai, Berakhir Aduhai

Gedung tinggi menjulang, lampu berwarna-warni, menjadi pemandangan yang memanjakan mata setiap hari. Mungkin hal itu bikin elo pengin tinggal di luar negeri. Begitu juga gue. Pas gue ngeliat film-film Jackie Chan, gue jadi pengin main ke China. Karena, konon China itu negara yang cukup digdaya.


Pemandangan semacam ini, bikin gue semakin nafsu buat main ke sana. Itulah kenapa, gue mutusin buat main ke Shanghai! Yeay! Beberapa teman sempat mengingatkan untuk memilih kota lain aja, tapi gue nggak mempedulikan mereka. Karena, gue jalan-jalan bukan untuk nyari kesenangan, melainkan keresahan. Keresahan untuk apa? Untuk ditulis menjadi sebuah buku. Hihi!

Wah.. Imigrasi China menerima kedatangan Alien

Tapi setelah gue nyampe di Shanghai, segala ekspektasi gue atas indahnya kota itu pun bubar jalan. Karena, kenyataannya pemandangan yang gue liat di Shanghai pas siang hari adalah seperti ini.


This city is only good to hang out at night

Iya, itu semua adalah polusi udara, berkat banyaknya industri di sekitar sana. Yah, lo pasti tau lah, hampir semua barang di bumi ini dibuat di China. Makanya, wajar aja kalo di China banyak pabrik. Jadi, ya begini deh efeknya. Faktanya, sangking buruknya polusi udara di Shanghai, konon efeknya setara dengan menghisap 12 batang rokok setiap hari. Sedih.


Selain soal polusi udara, ada beberapa hal nggak wajar yang gue alami di sana. Ini beberapa di antaranya:

Kriminalitas
Gue ingat, hari pertama gue sampai di Shanghai, gue main-main ke Yu Garden. Di sana, deket juga area pasar tradisional gitu. Gue bisa beli pernak-pernik buat oleh-oleh temen-temen kantor. Nah, uniknya, gue kira Yu Garden ini bakal bagus dan damai banget. Kenyataannya, tempatnya cuma kayak kolam ikan  di rumah sakit yang ada jembatan kecilnya gitu. Di mana, pengunjungnya terlalu banyak, sampai susah buat gerak. Duh.


Potongan rambut hipster

Inilah kehidupan Ranger-Pink saat ini

Balik dari tempat itu, tepatnya pas nunggu taksi, gue tiba-tiba disamperin orang berhidung mancung, namun berkulit agak gelap. Dia ngeluarin sebuah iPhone dari kantongnya, terus cuma bilang, "Hrr.. Hrr.. Hrr.." Sambil buka info di iPhone itu. Iya, cara ngomong dia mirip anggota suku pedalaman yang masih suka melakukan ritual Kanibalisme. Gue sempet takut, tapi gue kembali inget, takut itu cuma sama Allah. Gue pun tenang kembali.

Awalnya, gue kira dia mau minta bantuan gimana caranya buat nelpon mantan, ternyata setelah gue pahami lebih lanjut, dia mau menjual iPhone-nya. Dia menjual iPhone itu seharga CNY 1000, atau kalau dirupiahkan menjadi 2 jutaan. Gue curiga dong, kok ada iPhone harganya 2 juta? Gue kira itu iPhone bajakan versi China.

Tapi ternyataaaaa... Gue yakin itu iPhone hasil nyopet. Soalnya, dia nggak bisa ngasih box dan kelengkapan lainnya. Dan yang paling penting, tuh iPhone masih kena iCloud Lock, di mana yang bisa buka kuncinya adalah pemilik aslinya. Jadi, selama iCloud Lock belum bisa dibuka, si pemilik masih bisa dengan mudah nemuin iPhone itu via GPS. Wah.. Gak lucu banget kalo gue ditangkep polisi China cuma gara-gara dianggep sebagai penadah hape colongan. Gue pun menolak penawaran mas Kanibal itu, kemudian dia terlihat tersinggung, lalu ngedorong gue, dan dia lari. Indah sekali hari pertama gue di China.

Kendala Bahasa
Gue kira, dengan menguasai bahasa Inggris secara baik itu bisa memudahkan gue buat pergi ke penjuru manapun di dunia. Tapi ternyata, pemikiran itu berubah ketika gue sampai di China. Begitu sampai di China, gue sangat kesusahan buat nemuin orang yang bisa berbahasa Inggris. Semacam 1 banding 100. Misalpun nemu orang yang bisa berbahasa Inggris, logatnya Chinglish (Chinese English) banget, di mana perlu kecerdasan ekstra untuk mengerti yang dia maksud. :(

Bahkan, sebagian staf di hotel yang gue tempatin pun, susah buat nemuin orang yang bisa berbahasa Inggris dengan baik loh. Jadi, ceritanya, malem-malem gue laper. Gue nelpon resepsionis buat mesen makanan. Gue bilang, "Can I order some food?" Dia jawab, "No." Terus, gue jawab lagi, "Why?", jawaban dari dia berikutnya adalah, "Ni xian wen toajdfoajedlkfjasdf werahdfalkjad." Gue pun nutup telpon dan milih buat lompat ke sini pake parasut.



Pemandangan depan kamar gue. Bisa lompat kalo udah lelah sama hidup.

Selain kendala bahasa lisan, ternyata di China, sebagian besar tempat usaha menggunakan tulisan China. Jadinya, gue nggak ngerti yang gue masukin itu restoran atau rental PS. Itu adalah hasil dari kebijakan pemerintah China, di mana waralaba/tempat usaha dari luar negeri yang mau membuka cabang di China, harus mau memakai branding China. Pokoknya, China itu negara yang sebenarnya keren. Negara yang sangat menjaga identitasnya, dan tidak mau banyak terpengaruh negara luar. Mereka tidak mau "menjual" negaranya agar bisa dianggap maju. Dengan kebijakan semacam itu, akhirnya, gue pun milih buat makan di tempat yang sudah pasti-pasti aja, dengan menebak logo produknya. Di titik ini, gue ngerasain beratnya hidup orang bisu, tuli, dan sekaligus buta huruf. Sad.


Ini nggak mungkin panti jompo, kan?

Tapi ada hal lucu juga kalo mengingat orang di China banyak yang nggak ngerti bahasa Inggris. Yang efeknya adalah, banyak orang sana yang make atau jualan kaos berbahasa Inggris tanpa ngerti artinya apa.





Gue kira, kaos semacam itu cuma ada di 9gag aja. Ternyata emang beneran ada di China. Kocak! :)))

Lalu Lintas
Awalnya, gue kira lalu lintas di Shanghai bakal sekeren di Singapura atau Hongkong. Di mana pengendaranya tertib-tertib, ada Metro yang bakal mudah nganter kita ke semua tempat di kota itu. Kenyataannya, hal semacam itu enggak terjadi di Shanghai.

Soal taksi, pas di sana gue nemuin supir taksi yang nggak mau pake Argo, alias nembak tarif (sounds familiar). Lalu, soal pengendara motor di Shanghai, mungkin mirip sama sebagian pengendara motor di Indonesia. Suka berkendara ke mana-mana tanpa helm, atau nerobos lampu merah.

Ngopi dulu di tengah jalan, ah~

Oiyah, sepeda motor di Shanghai, nggak seperti motor di Indonesia. Kalo di Indonesia, motor itu seperti benda yang bisa dibanggakan buat dapetin cabe-cabean. Di China, motornya cuma ada 2 tipe:

- Skuter matic
- Skuter electric

Di mana, bentuk motornya ya bakal sangat mengenaskan. Setiap ada bagian yang patah, bakal dilakban doang. Yang penting mah, bisa jalan, nggak buat bangga-banggaan atau balapan.





Hayuk Dek, kita jalan-jalan keliling kota. Adek masuk ke Box, ya!

Internet Menyiksa 
Ini yang sempat gue lupa saat mempertimbangkan untuk bepergian ke China. Ternyata, pemerintah China memblokir banyak banget website-website Sosial Media. Sehingga gue kesulitan buat berbagi momen di Twitter maupun Facebook. Hal itu beralasan, mungkin pemerintah takut ada terbentuk komunitas-komunitas yang bisa membahayakan posisi mereka. Seperti yang terjadi di revolusi Mesir beberapa tahun lalu. Berkat bantuan Facebook, rakyat Mesir mampu menggulingkan kekuasaan Hosni Mubarak. Sehingga, hampir segala akses internet penduduk di China, dimata-matai oleh pemerintahnya. Hiii..

Untuk bisa mengakses sosial media atau website yang di-block, gue terpaksa pake VPN. Lumayan ribet, dan internetnya leleeeet.. Duh.. Wajar deh kalo orang-orang di China susah ngikutin perkembangan tren di sosial media dunia. Besyukurlah wahai kita para pengguna sosial media yang tinggal di negara yang masih bebas berkicau. Tapi jangan sampai kebebasan kita kebablasan ya. Nanti internet kita difilter juga loh. Hiiii..

Sikap Masyarakat Sana
Mungkin ini cuma di Shanghai, yang memang sebuah kota besar di sana. Orang-orang terlihat individualis dan kurang ramah (kayaknya penduduk di hampir setiap kota besar begitu juga). Sebagai contoh, sebagian orang yang mau gue tanyain soal jalan, begitu paham kalo gue nggak bisa bahasa China, mereka langsung berlalu begitu saja. Nyesek sih..

Selain itu, gue juga agak sedih sama kecuekan orang-orang di sana. Jadi, ceritanya sore itu gue mutusin buat jalan kaki mengelilingi pedestrian area untuk ngambil foto-foto gedung di atas. Sebelum gue berangkat, gue taruh kaca mata minus gue di kantung bagian dalam kemeja. Lalu, saat gue lagi jalan kaki, gue denger suara "Klothak!", semacam benda jatuh gitu. Saat itu ada banyak orang di belakang gue juga, gue kira hape mereka jatuh atau semacamnya. Gue lanjut jalan.

Begitu gue nemu spot asyik buat motret, gue rogoh kantung kemeja gue buat ngambil kacamata. Dan.. kacamatanya enggak ada.


Dear desainer kemeja ZARA, gue pengin nonjok muka lo karena ngedesain kantung mubadzir begini.

Gue jadi inget momen sebelumnya, pas gue denger suara "Klothak!" itu. Iya! Itu pasti kacamata gue! Tapi kok orang-orang di belakang gue nggak ada yang mungutin atau manggil gue sih? Apa segitu cueknya mereka kepada sesama? Akhirnya, sejak hari itu, mata gue burem. Gue balik hotel, memutuskan untuk beli tiket pesawat balik secepatnya. :(

Oiyah.. Selama di sana, gue ditemenin jalan-jalan sama sahabat gue, namanya Ayas. Dia adalah seorang mahasiswi PhD di Universitas Manchester, UK. Cerdas? Iya. Gila? Iya banget.


Nih, kelakuan Ayas waktu main di sana. Dia melakukan tarian pemanggil hujan di kuil. Dan berkat skill-nya yang keren dalam hal fotografi, foto gue selama di China, jadinya begini:

Lupakan soal fokus, kuilnya bagus!

Apakah selama di China, gue cuma berduaan ama dia? Enggak. Yang bener, gue nemenin dia jalan-jalan sama pacarnya.

Gue memutuskan buat balik duluan, karena gue udah nggak tahan melihat kemesraan mereka. Gini amat rasanya hidup tanpa pasangan, bisa jalan-jalan, tapi tetep kesepian. Hiks.

Nah, itulah beberapa cerita gue mengenai kota Shanghai. Buat lo yang mau main ke China, gue saranin mending ke Beijing aja. Di sana udaranya seger, suhunya dingin, dan banyak tempat-tempat bersejarah seperti Tembok Besar China, atau Forbidden City. Recommended banget. Kalo ditanya, apakah gue menyesal udah jalan-jalan ke Shanghai? Tentu tidak. Semua kembali ke tujuan awal, gue sengaja ke sana untuk mencari keresahan, bukan kesenangan.

Dari perjalanan kemarin, gue belajar. Memang yah, kadang sesuatu itu cuma indah untuk dikagumi, bukan dikenali lebih jauh. Karena begitu kenal lebih jauh, rasa kagum bisa hilang gitu aja. Hal ini nggak cuma berlaku untuk sebuah kota, bisa juga berlaku bagi seorang idola atau gebetan. Ada gebetan yang hanya menyenangkan saat sedang pendekatannya, tapi saat dimiliki, hambar-hambar aja.

Ada yang pernah ke China juga? Share pengalaman lo di kolom komentar, ya!

Sabtu, 21 Desember 2013

Pencitraan itu Penting

Jokowi lagi blusukan di pasar, dibilang pencitraan. Dahlan Iskan jadi pelopor mobil listrik dan sibuk mondar-mandir ngetest mobil listrik, dibilang pencitraan. Farhat Abbas suka ngetweet nyablak dan rajin nyari ribut, errrr.. bukan pencitraan sih, emang gitu aslinya.

Nah, dari contoh-contoh di atas, gue jadi nyimpulin bahwa banyak orang mengira pencitraan itu bukanlah hal yang baik untuk dilakukan. Tapi di mata gue, pencitraan itu penting. Gue nyadar, nggak ada manusia sempurna di dunia. Sedangkan sosok yang ingin disukai oleh banyak orang itu tentunya pengin banget diliat sisi-sisi baiknya. Emang lo nggak bakal ilfeel kalo liat Justin Bieber ngemilin upilnya sendiri? Atau ngeliat Kim Kardhasian ngupil pake lidahnya sendiri?

So, di sini maksud gue pengin ngelurusin bahwa pencitraan itu bukan berarti kita berubah jadi sosok sesempurna dewa. Pencitraan itu gunanya untuk menunjukkan sebagian sisi dari diri seseorang yang memang pengin ditunjukin ke publik aja. Nggak semua masalah kita, orang perlu tau, kan?

Di situlah fungsi pencitraan. Gue sendiri, setiap kali ngetweet, cukup menghindari ide-ide yang memancing isu SARA meskipun itu fakta. Tapi demi dapet pencitraan gue bukanlah orang yang suka nyari ribut dengan orang-orang fanatik, gue milih diem dan kembali ngebahas soal kehidupan anak muda, tentang cinta, bokek, galau dan boyband. Gue sebenernya juga gatel buat ngetwit atau ngeblog soal politik, soalnya gue gemes banget dengan tingkah sebagian pejabat-pejabat idiot yang suka bikin rakyatnya sengsara, dan jalannya segala jenis birokrasi yang selalu harus dilancarkan duit seakan-akan duit itu sifatnya seperti oli. Tapi gue coba menghindari ngomongin soal politik, karena gue pengin dikenal oleh para pembaca sebagai seorang mahasiswa cuek yang nganggep hidup itu nggak ada masalah yang kudu dipusingin. Gue cukup berusaha nunjukin bahwa gue mahasiswa yang selalu gagal mendapat gelar sarjana, tapi nggak pernah berhenti bikin hal-hal baru yang belum tentu bisa dilakuin oleh orang-orang yang udah sarjana. Udah paham konsep pencitraan positif di sini?

Nah, berhubungan dengan topik itu, sejak bulan November kemarin, gue mondar mandir keliling Indonesia buat ngisi kelas yang dibikin sama Indosat buat ngajakin temen-temen Duta iM3 ngebangun personal branding.

Duta iM3 apaan sih, Al?

Duta iM3 itu anak-anak muda yang dipilih sama Indosat buat jadi brand ambassador mereka. Biasanya setaun sekali ada regenerasi Duta iM3 yang dipilih sama Indosat. Awal tahun ini bakal ada seleksi lagi. Lo mau gabung? ;)

Nah, kebetulan gue kemarin kebagian ngisi di 6 kota dari total 10 kota yang beruntung kebagian kelas duta iM3. Empat kota sisanya diisi sama Benzbara, sahabat gue yang canggih banget kalo soal nulis novel romance. Diawali dari kota Batam, dilanjutkan di kota Kediri, Denpasar, Bandung, Jakarta dan Jogja. Setiap weekend, gue berbagi pengetahuan soal Personal branding buat adek-adek Duta iM3 di kota-kota tersebut.




Kelas di setiap kota rata-rata materinya hampir sama, karena temanya adalah membangun personal branding, atau bahasa simpelnya Pencitraan. Gue ngejelasin fungsinya Personal Branding itu apa. Gue ngejelasin gimana sih caranya ngebangun personal branding. Gue ngejelasin gimana nantinya kita harus bersikap, saat orang-orang bisa bosen main twitter. Dan anak-anak duta iM3 tuh asik-asik dan cerdas-cerdas banget. Mereka aktif buat nanya-nanya apapun yang mereka rasa belum jelas. Gue demen kalo ngisi kelas semacam ini, di mana gue ngerasa mereka bener-bener percaya kalo gue bisa ngejawab segala pertanyaan mereka. Dan mereka bisa ngerasa nyaman di depan gue untuk menjadi diri mereka apa adanya.



Buat kalian yang kemarin nggak sempet buat ikutan kelas gratis duta iM3 di beberapa kota itu, berikut gue rangkum apa aja yang gue bahas di kelas-kelas itu:

What is Personal Branding?
Seperti yang udah gue sebutin di atas, personal branding adalah bagian dari diri kita yang mau kita tunjukin ke publik untuk "dijual" dan dinikmati oleh orang lain. Misalnya, om Mario Teguh.. Sebagai motivator, dia nggak mungkin ngetweet keluhan-keluhan hidup seperti, "Kangen pacar orang.. Aku galau", atau "Jam segini mau makan, nggak ada nasi.. Mati aja deh gue..", atau "@JustinBieber, follback me please. Otherwise, I'm gonna kill my wife!" 

Yap, intinya personal branding ini menciptakan tuntutan di diri si pemilik persona untuk tidak melakukan hal yang berseberangan dengan persona yang dia bangun sendiri. Sehingga orang benar-benar percaya bahwa orang itu sifat aslinya memang sesuai konten pembicaraannya.

Kenapa Kita Harus Punya Personal Branding?
Personal Branding itu penting, mengingat melalui personal branding inilah kita mampu menunjukkan potensi diri kita. Sisi menarik dari diri kita yang akan kita jual kepada publik. Kalo kita tidak punya personal branding, orang tidak akan paham potensi diri kita apa. Mereka tidak akan bisa menyukai orang yang tidak punya hal menarik apapun di dalam dirinya kan?

Gimana Cara Membangun Personal Branding?
Pilih bagian mana yang pengin lo tonjolkan dari diri lo. Misal lo tuh suka banget ngomongin gadget, dan teknologi, ngomongin aja soal gadget dan teknologi secara konsisten, tanpa dicampur adukkan dengan ngebahas soal cinta.

Personal branding lo tadi sukses, saat ada yang pengin beli gadget, atau gadgetnya rusak, orang itu langsung kepikiran nama lo, karena lo rajin ngebahas soal gadget. Dan orang itu percaya lo bisa ngasih saran yang bener, mengingat di mata dia lo adalah seorang pakar gadget dan teknologi. Itu cuma contoh simpelnya doang sih. Lo bisa nyari sendiri persona lo di mana. Yang jelas, pastiin lo milih persona berdasarkan dari hal-hal yang lo nggak mungkin bosen buat ngejadiin hal itu sebagai topik pembicaraan. Sehingga lo bisa konsisten buat terus-terusan ngebahas atau bikin karya berdasarkan hal itu.

Yup.. Kira-kira itu sedikit rangkuman dari materi kelas gratis Duta iM3 kemarin. Gue berharap, materi ini bisa membantu kalian para duta iM3 pada khususnya, atau semua pembaca blog ini pada umumnya untuk lebih mengerti bahwa Personal Branding adalah jalan paling efektif untuk menjual diri dalam konotasi positif. Dengan membuat orang percaya, nyaman, dan butuh kepada kita, artinya personal branding kita sudah cukup kuat. Saat personal branding kita sudah cukup kuat, kita mau berkarya dalam bentuk apa aja, pastinya sudah ada orang-orang yang menanti karya kita di luar sana.

So, pertanyaan gue ke kalian sekarang adalah, lo udah mulai sadar dengan fungsi Personal Branding belum? Lo udah punya personal branding belum? Dan kalo ada pertanyaan mengenai topik ini, share aja di comment box ya! ;)

Ciao!

Rabu, 13 November 2013

Halloween Horror Nights di Singapura


Dikejar-kejar setan bergigi sepanjang 2 meter, mangap-mangap dengan nafas bau TPS bantar gebang, dan mulutnya penuh darah. Gue lari-larian sepanjang jalan gelap dan berkabut. Bukan.. Gue lari bukannya karena takut. Tapi karena gue abis ngejambret gantungan tas Pokemon punyanya anak TK. Abis itu gue ketemu bapak dari anak TK itu, terus gue dijewer.


Ceritanya, akhir Oktober kemarin gue main ke Resorts World Sentosa bareng @Benakribo dan Arief @poconggg karena diundang dari pihak RWS. Dan untuk pertama kalinya, gue masuk airport Changi sendirian. Soalnya gue ama anak-anak beda flight. Anak-anak dari Jakarta, gue dari Jogja. Nah, karena biasanya gue di airport itu bareng anak-anak, gue tinggal ngikutin aja ke mana mereka jalan. Biasanya si Bena sih yang udah khatam Singapura. Kemarin pas gue sendirian di Changi, gue jadi cengo, abis turun dari pesawat gue bingung kudu pergi ke mana. Sedangkan airport Changi itu gedenya nggak bisa gue jelasin pake bahasa Zimbabwe. Kalo ditelusurin seluruh bagian airport dengan jalan kaki, kayaknya begitu nyampe pintu keluar, kaki gue bakal jadi segede tiang listrik.

Akhirnya gue memberanikan diri buat nanya ke petugas bandara. Gue bilang,

"Hi.. I want to go to the biggest waterpark in Singapore. Do you know how to get there?"

Abis gue nanya gitu, petugasnya senyum, terus ngejawab pertanyaan gue dengan bahasa inggris yang logatnya chinese. Lo nggak bakal ngerti gimana absurdnya logat orang Singapore yang berbahasa inggris kalo lo belom denger sendiri. Yang jelas, kemarin yang kedengeran di telinga gue adalah,

"You want to go to what the faak? You have to go weasdfklajsdfwe asdfasdlkfnklqjwer and then, you have to take adsfadsflak ouyrtqopsdfg.. Is it clear?"

Dengan keadaan kepala agak migren, terpaksa gue jawab, "Yes.. It is clear.."

Usaha gue tadi nggak membuahkan hasil. Gue pun memutuskan untuk beli simcard Singapore dulu biar gue bisa ngontek panitia. Dan kampret.. Kartu perdana di Singapore harganya cukup banget buat bayar kost mewah sebulan di Jogja. Gue lemes. Tapi nggak ada pilihan lain, gue pun beli sebuah simcard seharga 50 dollar itu dengan menangis sesenggukan. Begitu internetnya aktif, gue pun ngehubungin panitia. Dan gue diminta buat nunggu supir jemputan hotel di Arrival. Dari info itu, tentunya gue tinggal nyari di mana letak Arrival berada. Dari situ, gue dapet ide buat ngikutin petunjuk arah yang tertempel di bandara. Dan ternyata, gue kudu naik Sky Train! Itu kereta keren banget. Bentuknya kayak gini:


Kalo di Indonesia ada kayak ginian, tiap hari gue bakal mondar-mandir naik ginian. Bukan.. Bukan untuk pergi ke mana-mana.. Tapi asik aja naik Sky Train terus ngebut-ngebut gitu, apalagi sambil melukin pacar orang.

Sesampainya di arrival, gue nelpon supir dari hotel itu, dan kita ketemuan. Gue peluk dia dengan penuh rasa haru. Gue bahagia karena gue batal jadi gelandangan di negeri orang karena nyasar. Setelah ngelewatin jalanan yang sama sekali nggak macet karena sedikit kendaraannya dan luas jalanannya, serta jalanan yang adem karena di kanan kiri banyak pepohonannya, gue pun nyampe di RWS. Di sana gue ketemu Bena dan Arief. Gue bahagia banget. Gue ciumin mereka satu-satu. Gak tau kenapa, gue kangen aja, karena udah lama nggak kumpul-kumpul ama mereka. Bena keliatan kurusan, sedangkan Arief makin keliatan mirip manusia. Oiyah.. Selama di Singapore kemarin, si Arief sibuk mulu ama gadget barunya yang dinamai TONGSIS (Tongkat Narsis). Gunanya buat motret diri sendiri. Kasian.



Setelah kita makan dan ganti baju, kita lanjut ke Adventure Cove Park, iya.. Seperti yang udah pernah gue bahas dulu, di sini ada Aquarium terbesar di dunia.


Nah, kali ini beda.. Kita nggak cuma mau nonton di luar.. Tapi kita bakal nyelam di dalam sana! Woohooo!! Nyelamnya tuh beda.. Kita nggak pake sepatu katak atau pake selang-selang gitu. Tapi kita bakal make ginian:


Ini bukan dispenser loh~

Selain pake helm itu, kita juga diwajibkan buat make pakean nyelam.

Iya, ini Taylor Lautner.

Buat yang mau nyoba, wahana ini namanya Sea Trek. Jadi, buat temen-temen yang suka diving, mungkin udah bosen dengan alat diving konvensional, bisa nyobain wahana ini. Alat yang dipake ngingetin gue sama alat scuba diving classic yang ada di film-film kartun. Bedanya, kalo alat yang jadul itu kita kudu bawa selang yang disambungin ke kapal yang menyuplai oksigen. Sedangkan alat yang gue pake kemarin, nggak perlu selang semacam itu karena gue udah dikasih tabung oksigen buat dibawa-bawa. Jadinya lebih bebas dong ya.


Sensasinya beda..

Pic taken from: GoPro Bena

Di dalam aquarium raksasa ini, kita bisa jalan-jalan (iya, jalan.. bukan renang, jadi nggak perlu takut kalo nggak bisa renang) sambil liat koleksi ikan-ikan dari yang kecil-kecil, sampe yang segede cinta gue ke Aura Kasih. Asik banget.

Abis dari Adventure Cove Park, kita lanjut main sama lumba-lumba. Iya, main sama lumba-lumba.. Bukan nonton atraksi lumba-lumba dari kejauhan. Kita bisa nyentuh, meluk, bahkan nyium lumba-lumba itu secara langsung.


Dengan ditemenin instruktur, tentunya..


Makasih potonya ya Ben.. Gue jadi keliatan ngondek di sini.

Abis main-main air sampe puas, kita balik ke kamar hotel buat ganti baju karena ntar malemnya kita bakal main-main ama setan. Tapi sebelum balik hotel, gue mampir dulu ke Casino buat malakin om-om tajir yang abis menang main Poker. Tapi baru nyampe depan Casino, gue diusir.



Malemnya nih, setelah kita makan, kita lanjut ke Universal Studios Singapore buat ngikutin event Halloween Horror Nights 3! Di sini kita bakal ketemu sekitar 400 hantu dari berbagai spesies. Mulai dari vampir sampe pocong juga ada.

Gue juga penasaran, emang pocong punya pasport buat masuk Singapura ya?


Selain bisa main kejar-kejaran ama setan, tentunya sambil poto-poto dan ngajak jadian setan bule yang cantik,


Kita juga bisa main ke rumah hantu yang temanya beda-beda! Ada rumah hantu yang isinya setan-setan barat (House Of possession), ada juga rumah hantu yang nuansanya oriental banget, di mana pas kita di dalem rumah itu, selalu terdengar nyanyian lagu mandarin yang bikin bulu hidung berdiri semua (Songs of Death). Selain yang bentuk rumah, ada juga ADRIFT yang nuansanya kita kayak lagi di dalam sebuah kapal berhantu gitu. 


Gokil! Pokoknya, semaleman kita dibikin deg-degan dengan setan yang suka tiba-tiba nongol dari tembok, plafon, maupun jamban. Sayangnya, pas di dalem masing-masing rumah hantu, kita nggak boleh make kamera. Bukan karena apa-apa, takutnya ada yang ketakutan, terus ngelempar kameranya ke setan kan bahaya.

Dan yap.. Malam itu adalah akhir dari liburan gue bareng Bena dan Arief di Singapore kemarin. Menurut gue, Halloween Horror Nights di Universal Studios Singapore kemarin adalah event Halloween terbaik dan paling seru yang pernah gue alamin. Event lain? Nggak tau deh.. Gue belum pernah ngerayain Halloween sebelumnya. Terima kasih Resorts World Sentosa, inovasinya selalu keren. Bikin gue nggak bosen-bosen buat ke sana, meski udah empat kali.

So, this is the end of the post. Gue doain kalian yang belum sempet ke sana, bisa segera ke sana untuk menikmati semua wahana kerennya. Yang udah pernah ke sana, coba deh ke sana lagi.. Ada banyak wahana baru di situ. :)

Ciao!