Kamis, 29 Januari 2015

Pandangan Orang Dewasa Tentang Asmara

Kemarin gue nembak cewek yang udah cukup lama gue deketin. Respon cewek itu kaget banget waktu gue tembak. Soalnya selama gue deket sama dia, gue nggak pernah ngegombal ataupun ngomongin soal cinta. Yang gue lakuin justru nyoba nunjukin perasaan gue dengan perbuatan nyata, bukan dengan kata cinta. Namun tampaknya dia nggak cukup peka. 

Endingnya waktu gue tembak dia jawab, 

"Sorry.. Gue nggak bisa nerima elo jadi pacar gue. Gue emang nyaman sama elo, gue suka kalo lo anterin makanan, gue suka kalo lo isiin pulsa, dan gue suka cara lo nguras jamban gue. Tapi, selama ini gue cuma nganggep elo sebagai om gue sendiri." Ucapnya sambil sesekali mengelap ingusnya pake rok seragam sekolahnya yang berwarna merah itu.

Gue terdiam. Rasa malu, kecewa, sedih, lega, bercampur jadi satu di dada gue. Gue pun pulang dengan segala perasaan yang menyesakkan dada itu.

Pengalaman di atas bukan pengalaman satu-satunya gue ditolak cewek. Dan rata-rata pada beralasan gue tuh nggak romantis, atau gue tuh membosankan. Mungkin itu salah gue juga, gue udah nggak seaktif zaman gue masih belia dulu. Dan akhirnya gue masuk ke fase dewasa yang intinya, "The more you get old, the more you hate bullshit". Nah.. Gue di fase itu, gue benci basa-basi. Gue udah bosan dengan lingkaran setan: 

Kenalan-PDKT-Pacaran-Ilfeel-Putus-Kenalan lagi, gitu terus sampe sapi bisa kayang.

Adaptasi adalah hal yang tidak mudah dan melelahkan. Harus membuka diri lagi kepada orang baru, harus menceritakan pengalaman yang sudah terlalu muak untuk diceritakan ulang, harus mengenal keluarga si pasangan baru lagi, membuka hal-hal paling memalukan dari dalam diri kepada pasangan baru lagi agar dia bisa mengerti. Capek! Dan bagian paling menyebalkan adalah, hal itu buang-buang waktu.


Kadang remaja pada salah paham, mereka ngira orang dewasa itu membosankan atau nggak asik. Gue lurusin dulu yah.. Orang dewasa itu masih asik kok, tapi sekarang mereka udah nggak mau lagi asik dengan cara remaja yang penuh basa-basi.

Orang dewasa udah nggak suka saling muji, saat nggak ada yang layak dipuji. Orang dewasa nggak mau ngasih harapan palsu bakal dateng ke acara tertentu di saat mereka memang nggak bisa dateng ke acara itu. Orang dewasa nggak akan buang-buang waktu untuk melakukan hal yang mereka tidak suka. Kejujuran semacam itu kah yang kadang kalian anggap sebagai "ketidak-asikan"?

Nggak apa-apa dibilang nggak asik, setidaknya orang dewasa sudah bisa membedakan mana yang diinginkan dan mana yang dibutuhkan. Setidaknya dengan begitu, orang dewasa tau mana yang perlu dilanjutkan, dan mana yang perlu ditolak mentah-mentah dari awal.

Loh? Apa asiknya bisa membedakan mana yang diinginkan dan mana yang dibutuhkan?

Gue bakal jelasin di bawah.

Yap, pengalaman-pengalaman ditolak itu bikin gue mikir bahwa ada banyak miskonsepsi tentang cara pemilihan pasangan yang dilakukan orang-orang. Nah, gue mau bahas dari segi cewek dan cowok nih. Kita mulai dari cewek:

1. Doyan Gombalan
Sesuai pengalaman gue, sebagian cewek lebih mudah hanyut kepada cowok yang doyan muji mereka dibandingkan memberikan perhatian yang lebih nyata. Sebagian cewek lebih mudah tertipu oleh kata-kata dibanding memperhatikan perbuatan orang yang berkorban untuknya. Sebagian cewek lebih memilih cowok yang memberikan bunga mawar nan cantik kepadanya, dibandingkan pria yang memberikan jaket di saat suhu dingin melanda.

Faktanya, memang sebagian cewek lebih mudah jatuh cinta kepada cowok yang bilang, "Cuma kamu cewek di Bumi ini yang aku cinta. Bagiku, kamulah pusat dunia. Tanpa kamu, aku merasa bagai biji tanpa batang, nggak guna". 

Dibandingkan cowok yang bilang, "Aku punya banyak prioritas dalam hidup, salah satunya adalah kamu, tapi kamu bukan yang pertama. Yang lebih utama adalah karier dan keluarga". Gue yakin sebagian cewek bakal komentar, "Dasar cowok nggak romantis!" saat dikasih pengertian semacam itu.

Tapi sebagian cewek emang nggak nyadar bahwa gombalan atau pujian itu hal yang terlalu murah untuk didapatkan. Seorang cowok brengsek bisa ngegombalin 4, 5, atau 6 cewek berbeda dengan gombalan yang sama atau bahkan di kurun waktu yang sama.

Sedangkan perbuatan nyata meski tanpa kata cinta, adalah hal termewah yang bisa didapatkan wanita. Karena dibalik setiap usaha seseorang, pastinya ada pengorbanan yang dia lakukan, dan pengorbanan itu tak bisa diuangkan.

Nah, orang yang mencintai dengan cara MELAKUKAN SESUATU itu nggak gampang. Hal itu menghabiskan waktu dan energi lebih banyak dibandingkan cuma menggombal. Makanya, tukang gombal lebih gampang selingkuh sama cewek-cewek polos pecinta gombalan karena hal itu nggak melelahkan. Sedangkan cowok yang lebih suka memberi perhatian nyata, nggak bakal kuat membahagiakan lebih dari satu wanita di kurun waktu yang sama. Karena lagi-lagi, itu adalah aktivitas yang melelahkan. 

Rumusnya, banyak muji = banyak bohongnya. Banyak janji = banyak ingkarnya.

So girls... Masih doyan gombalan kah?

2. Doyan Cowok Yang Selalu Romantis
Sebagian cewek emang suka dipuja.. Suka banget dikasih kejutan. Ya, sebagian cewek sangat menginginkan kisah cinta yang mereka alami itu bakal seindah cerita di film romance favorit mereka. Padahal hidup itu nggak bisa selalu romantis, bahkan lebih banyak realistis. Iya, aspek hidup yang bakal dihadapi berdua itu nggak cuma soal cinta. Hidup perlu uang, perlu makan, perlu tempat tinggal, dan itu semua nggak bisa ditebus dengan cinta doang.

Cowok yang bertanggungjawab cenderung membagi-bagi fokus hidupnya kepada banyak hal, untuk mengimbangkan semua aspek hidupnya. Itulah kenapa, mereka cenderung sibuk dan cuek sama pasangan di saat mereka sedang mengusahakan kehidupan yang lebih baik. So, mereka mungkin bakal romantis di saat tertentu. Jadi jangan harapkan pria bisa romantis setiap hari seperti saat kalian masih pacaran dan belum bisa ngasilin duit sendiri.

Pria yang doyan selingkuh itu biasanya pengangguran. Karena dia punya banyak waktu luang dan energi yang tersisa. Sedangkan orang sibuk ngapain selingkuh? Satu pasangan aja jarang disentuh.

Sedangkan cowok:

1. Anti Cewek Matre Tapi Aslinya Minder
Diminta bayarin makan malem doang, udah nuduh pacarnya matre. Ditanya udah punya apa buat modal nikah, langsung nuduh pacarnya matre. Pacar minta pulsa saat ditangkap polisi, langsung nganggep matre.

Cowok-cowok minder kayak gini yang perlu belajar lagi artinya matre dan realistis. Kalo lo ninggalin cewek yang menanyakan jaminan masa depan, artinya elo cowok yang minder sama masa depanmu sendiri. Bahkan sangking takutnya sama masa depan, elo sampai ninggalin orang yang mengingatkan soal masa depan.

Cewek yang menanyakan jaminan masa depan itu bukan matre, tapi realistis. Cewek matre itu adalah cewek yang udah minta dibiayain segala keinginannya di saat dia belum jadi apa-apa.

Cewek realistis wajar dong mempertanyakan jaminan masa depan, dia kan kelak juga bakal jadi partner dalam hidup. Dia perlu tau gaya hidup macam apa yang akan kalian jalani, sehingga dia bisa mempertimbangkan, dia bisa menyesuaikan gaya hidup itu atau nggak. Dia bisa menyarankan, lo perlu berjuang lebih keras sebelum nikah atau nggak.

Gue percaya, wanita baik itu akan rela untuk hidup menderita sama pria yang dicintainya, tapi pria baik tidak akan rela membiarkan wanita yang dicintainya hidup menderita. Think about it~

2. Fisik Adalah Segalanya, Tapi Pengin Bahagia
Sebenernya nggak cuma cowok sih, sebagian cewek juga begitu. Malah, sebagian manusia pengin punya pasangan yang cakep, atau rupawan. Tapi apakah memang itu yang dibutuhkan?

Kadang dalam memilih pasangan kita lupa membedakan mana keinginan dan mana kebutuhan, sampai akhirnya mendahulukan keinginan dibanding kebutuhan, yang berujung pada kegagalan hubungan.

Contohnya gini, keinginannya punya pasangan yang cakep, tapi kebutuhannya punya pasangan yang selalu perhatian. Sayangnya, pasangan yang perhatian ini nggak memiliki tampang yang cakep. Dan anehnya, sebagai manusia kita kadang malah memilih orang yang tampangnya cakep dibanding orang yang bertampang biasa aja namun bisa ngasih perhatian.

Nah, di titik ini artinya kita sudah mendahulukan keinginan dibandingkan kebutuhan. Akhirnya pun bisa ditebak, hubungan itu nggak bakal bertahan lama karena apa yang kita butuhkan nggak ada di dalam orang yang udah dipilih berdasarkan keinginan itu. Ya, tanpa perhatian, kita nggak bisa nyaman meskipun pasangannya rupawan.

So, dari point ini, gue mau menyarankan, "Jangan cari pasangan berdasarkan apa yang lo MAU, tapi yang lo BUTUH. Lo bisa bosen ama yang lo MAU, tapi lo nggak bisa lepas dari KEBUTUHAN".

Yap.. Segini aja cuap-cuap gue sore ini. Maaf kalo agak random. Ini nyolong-nyolong waktu kerja di kantor buat ngepost, biar pikiran lega dan nggak disesakin oleh ide-ide yang gue tumpahin di postingan ini. Semoga berguna!

Ciao!

Selasa, 20 Januari 2015

MLM dan Money Game itu Beda loh!

Haloh kawan-kawan pembaca blog gue yang semuanya cakep, dan kawan-kawan pembeli buku gue yang semuanya lebih cakep.

Kembali gue mau sharing di blog gue ini berkat sebuah pengalaman menyebalkan beberapa hari yang lalu. Jadi awalnya hari itu gue lagi sibuk banget nangkep-nangkepin Pokemon di Nintendo. Terus hape gue berdering. Ternyata gue ditelpon temen zaman STM dulu. Namanya..... Supri.

Berikut kira-kira transkrip obrolan gue sama Supri:

Gue: Halo.
Supri: Alit! Alit! Wah.. Sudah jadi penulis buku nih ya!
Gue: Alhamdulillah, Pri.. Berkat doa kalian.
Supri: Haha! Gak pernah berubah lo ya! Eh.. Gue lagi di Jakarta nih! Ketemuan yuk! Kangen.
Gue: Eh? O.. Oke.

Awalnya gue agak ragu karena setau gue, Supri pas STM tuh orangnya berandal banget. Dulu dia suka ngintipin isi rok guru pake cermin yang dia tempel di sepatu. Gue takut kalo-kalo nanti pas gue ketemu sama Supri, dia juga bakal bawa cermin di kakinya buat ngintipin isi rok gue. Tapi Alhamdulillah gue inget kalo gue ternyata cowok.

Berbekal dengan keyakinan bahwa Supri sekarang sudah dewasa, pastinya Supri nggak bakal nakal kayak dulu. Gue pun menyanggupi ajakan dia buat ketemuan. Dan di hari yang sudah ditentukan, gue pun ketemuan sama Supri. Waktu gue dateng, gue agak telat karena Jakarta memang sering macet. Kita janjian pukul 9 pagi, gue dateng pukul 8 malam. Tapi syukurlah, Supri masih menunggu gue di Cafe sekitaran Kemang itu.

Begitu gue dateng, Supri terlihat sumringah. Dia langsung antusias melukin gue sambil sesekali menjilat telinga gue. Gue jadi agak canggung sekaligus seneng. Mungkin kita sama-sama saling merindu. Soalnya sudah nyaris 10 tahun nggak ketemu. Kami pun mengobrol panjang lebar dan tertawa-tawa saat membahas kehidupan zaman STM dulu. Sampai akhirnya kami membahas tentang kehidupan masa kini.

"Jadi, penghasilan sebagai penulis buku gimana? Cukup banyak dong ya?" Supri bertanya sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.

Gue menjawab dengan malu-malu, "Halah.. Cukup buat hidup deh. Nggak gede banget juga lah."

"Terus, masih mau nulis terus?"

"Masih lah.. Gue masih bakal nulis sampe nggak bisa ngetik lagi pokoknya." Jawab gue antusias.

"Hmm.. Kalo gitu, duitnya nggak bakal cukup dong kalo kelak lo punya anak-bini. Kalo sekarang aja cuma cukup buat hidup sendiri." Supri kembali menimpali jawaban gue sambil mengaduk-aduk kotoran ayam di lantai yang entah gimana caranya bisa tergeletak di situ.

"Yah, nanti sambil ikhtiar lah.. Ini kan gue juga masih sambil kerja kantoran." Jawab gue pasrah.

"Nah itu! Kerja kantoran itu ngebosenin sob! Gue nggak kerja kantoran loh! Tapi soal gaji, boleh diadu!"

"He?" Gue bingung sama jawaban Supri.

"Iya, gue sekarang nggak kerja kantoran, tapi gue punya bisnis yang prospeknya gede!" Jawab Supri.

"Bisnis apaan?" Gue penasaran. Jangan-jangan Supri ikut sindikat penjual organ tubuh Anoa.

"Nah.. Ini gue ngajak ketemuan elo buat bantuin elo! Biar penghasilan lo per bulan bisa puluhan juta kayak gue!" Supri tampak semangat sekali saat menjelaskan soal gajinya. Dia sampai berdiri di kursi, dan membuat orang-orang di sekitar kami memperhatikannya.

Gue ikut antusias mendengar kalimat Supri itu, "Bisnis apa sih? Gue penasaran!"

"Gini.. Gue mau ngajak elo bisnis MLM." Jawab Supri.

"Oh.. MLM ya? Produknya apa?" Gue nggak alergi sama kata MLM, karena setau gue MLM itu bisnis sehat, tapi kadang ada oknum yang mengatasnamakan MLM untuk bisnis yang sebenarnya bukan MLM.

"Nggak perlu lo pikirin produknya apa. Yang penting elo bisa ngerekrut orang sebanyak-banyaknya, dan jadikan mereka downline lo. Dengan begitu, duit lah yang bakal bekerja buat elo, lo nggak perlu kerja lagi." Supri menjelaskan dengan penuh antusias sambil menunjukan diagram yang mirip piramida.

Sampe di titik itu, gue nyadar, Supri bukan berbisnis MLM, melainkan bisnis Money Game. Gue pun menolak secara halus, tapi Supri tetap memaksa gue buat ikutan. Karena risih sama paksaan dia, gue pun menjawab, "Oke.. Gue mau gabung."

"Serius?" Supri terlihat bahagia mendengar jawaban gue.

"Iya, dengan satu syarat."

"Apa itu?"

"Pinjemin gue modal. Kata lo kan nggak sampe sebulan modal gue bakal balik berlipat-lipat. Nah, kalo udah balik modal, gue balikin deh modalnya." Gue menjawab dengan santai.

"Nggak bisa. Nggak ada duit, Litt."

"Loh? Katanya penghasilan lo udah puluhan juta?" Gue coba untuk memojokkan Supri.

"....."

Supri tak menjawab, beberapa saat kemudian gue pamit ke toilet, namun gue nggak balik lagi. Gue takut kalo gue disugesti terus-terusan dan terpengaruh. Ditambah lagi, dia selalu menekankan bahwa dengan jadi downline dia, gue nggak perlu ngantor lagi dan nggak perlu nulis buku lagi. Lha? Emangnya gue mau makan apa? Betis gue sendiri?

Terus pas kemarin gue ngeliat foto ini, emosi gue membuncah. Soalnya gue nggak tega adik-adik sekolah yang polos ini di-brainwash juga buat ikut bisnis yang make skema piramida terkutuk itu.



So, sebelum semakin banyak orang yang terjerumus di bisnis yang salah, gue mau ngejelasin bahwa MLM itu bukan bisnis yang merugikan. Yang merugikan adalah bisnis Money Game yang menggunakan Skema piramida. Emang bedanya MLM sama money game apa? Yuk kita bahas.

MLM itu Fokus Utamanya Menjual Produk
Kembali gue tekankan bahwa bisnin MLM sebenarnya adalah bisnis yang potensial, tapi sayang banyak orang yang menjalankan Money Game dengan berkedok MLM. Padahal, MLM memiliki misi yang berbeda, meskipun secara struktur memang mirip dengan Skema Piramida.

Pada prakteknya, MLM fokus pada penjualan produk. Sehingga penghasilan yang didapatkan membernya adalah murni dari hasil penjualan produk, bukan dari perekrutan downline baru. Logika simpelnya begini:

Lo daftar untuk jadi member MLM, terus elo dapet beberapa produk, nah.. Lo jual deh produk-produk elo itu kepada konsumen. Dari hasil penjualan itu, elo dapet pembagian poin deh! Poin-poin itu yang nantinya dikonversi jadi duit bonus elo.


Yang bikin mirip sama skema piramida adalah MLM memperbolehkan elo untuk merekrut member lain untuk bekerjasama bareng elo. Nah, dengan member-member elo itu, elo bisa menciptakan sebuah grup yang misinya menjual produk dengan jumlah lebih besar. Tapi di MLM, jumlah member (downline) dibatasi. Sehingga nggak sama dengan bisnis money game yang bercabang terus dan terus di mana member yang paling bawah adalah member yang paling teraniaya. Di MLM, semua member harus bekerjasama menjual produknya sehingga bisa tercapai target penjualan yang berujung pada bonus yang akan didapat.

Kenapa bikin grup lebih direkomendasikan di MLM? Karena perusahaan bakal ngasih bonus jika hasil penjualan produknya mencapai target yang sudah ditentukan. Dan untuk mencapai target itu, tampaknya agak susah bila dilakukan sendiri. Tapi kembali diingat, lo nggak dapet penghasilan dari merekrut member, melainkan dari hasil pembagian keuntungan produk yang lo jual bareng member-member lo. Have you got the idea?

Money Game itu Menjual Mimpi
Nah, si kampret Money Game ini yang merugikan orang-orang awam. Karena mereka biasanya memberikan iming-iming hal-hal besar, mewah dan cepat didapat. Pastinya lo nggak asing dengan kalimat, "Mau punya kapal pesiar? Mau punya rumah seharga milyaran? Mau punya istri 20?"

Yak.. Mimpi-mimpi besar yang seakan-akan mudah tercapai itulah yang jadi amunisi para pelaku money game untuk menjebak para calon member (down-line)nya. Bagi mereka yang mudah terpengaruh, pastinya akan segera tergiur dan menjadi member. Tapi apakah prakteknya semudah itu? TIDAK!

Seperti gue bilang, Money Game tidak benar-benar menjual produk. Mereka lebih fokus menjual mimpi, di mana produknya itu hanya jadi formalitas belaka. karena member hanya akan mendapatkan keuntungan jika dia mampu merekrut member baru (harus membayar biaya registrasi yang tidak sedikit), bukan menjual produk doang.

Yang gue sayangkan, banyak pelaku money game yang menjual mimpi dan terkesan mencuci otak para calon member mereka. Sehingga orang yang terpengaruh malah jadi kayak orang yang terlalu optimis hingga mendekati sakit jiwa. Coba lihat contoh-contoh berikut:






Photoshop aja dulu, punyanya mah belakangan.


Ini mobil, apa Hajar Aswad? Banyak banget yang pengin nyentuh!


Tiap liat mobil, langsung pada rame-rame poto di sana. Seakan-akan mobil itu menjadi tempat berwisata.

Kasian kan, mereka punya semangat yang berkobar-kobar, tapi terjebak di bisnis yang sebenarnya tidak semudah yang mereka bayangkan.


Ini bibit penipuan namanya!

Kenapa tidak mudah? Karena jangankan untuk beli mobil mewah, untuk mengembalikan modal saja perlu perjuangan yang keras dan panjang. Apakah ada jaminan bahwa semua member akan sukses ataupun balik modal? TIDAK! Dengan skema piramida ini, bahkan bila orang di seluruh dunia jadi member perusahaan Money Game ini pun, nggak bakal cukup buat balikin modal seluruh membernya. Silakan cek skema berikut ini untuk penjelasan lebih lanjut.


Nah loh.. Paham kan? Misal pun orang di seluruh dunia sudah bergabung di bisnis Money Game, untuk mengembalikan modal seluruh member, kita masih kekurangan berpuluh-puluh milyar member lagi. Padahal jumlah penduduk bumi tidak sampai 10 milyar. Yang mau nombokin siapa? Penduduk akhirat?

Legalitas
Mengenai legalitas dari bisnis ini, untungnya pemerintah sudah mencetuskan sebuah undang-undang yang mengatur mengenai bisnis Money Game. Yak! Money Game, atau bisnis yang menggunakan skema piramida ataupun bisnis yang tidak fokus pada menjual produk melainkan fokus pada perekrutan member untuk mendapatkan hasil adalah bisnis ilegal.


Sanksinya juga nggak main-main loh.. 10 tahun penjara, dan/atau denda paling banyak Rp. 10 milyar. Hayoloh~

So.. Dengan menuliskan postingan ini, gue harap adek-adek yang masih lugu dan mau mencoba bisnis sendiri, bisa lebih jeli jika mendapatkan tawaran bisnis dari teman maupun saudara. Atau kalo perlu, silakan tunjukan tulisan ini kepada mereka yang sudah terlanjur terjebak agar mereka sadar bahwa yang mereka lakukan bukanlah cara yang benar untuk berbisnis.


Pokoknya, jangan mudah tergiur dengan mimpi-mimpi besar yang katanya bisa dengan mudah lo capai. Karena semua hasil itu akan setimpal sama usahanya. Nggak ada usaha yang mudah dengan hasil yang mewah. Kerja keraslah yang menghasilkan sesuatu yang "wah!".

Lo ada pengalaman tentang MLM atau Money Game? Silakan share di comment box biar temen-temen lain pada paham ya!

Ciao!

References:
- Images from kaskus
- Idekerjadirumah.com
- roda2blog.com

Kamis, 01 Januari 2015

Beberapa Penyebab Pembajakan Marak di Indonesia

“Males bikin album ah! Males berkarya lagi.”

Itu yang diucapkan temen gue yang berprofesi jadi penyanyi. Dia merasa malas berkarya karena hasil usahanya selama berbulan-bulan, tidak dihargai oleh sebagian besar penikmat karyanya. Iya, temen gue ini jadi korban pembajakan. Hal itu membuat dia malas untuk berkarya, karena setiap dia berkarya, dia hampir nggak dapet apa-apa. Bayangin suramnya hidup kita kalo nggak ada lagi musisi yang mau menciptakan lagu. Tiap lagi galau, nggak ada lagi lagu-lagu melankolis yang mau menemani kita nangis di bawah shower.

Anehnya, pembajakan karya cipta di Indonesia malah terlihat sangat “lumrah”. Bahkan nggak jarang gue liat ada orang-orang yang mention ke penyanyi di twitter dengan kalimat, “Bang! Aku lagi dengerin lagu kamu~” kemudian dia ngasih screenshoot music playernya yang lagi mainin lagu penyanyi itu dengan album cover ini:


Kalo lo muter mp3 di hape, tapi cover albumnya begini, artinya lagu lo bajakan.

Tentu saja hal itu menyakiti sanubari si penyanyi yang dimention dong.

Nah, gue sendiri zaman sekolah dulu juga penikmat karya-karya hasil bajakan. Meskipun begitu, gue juga tetep beli album-album asli dari musisi yang emang gue sukai lagu-lagunya. Soalnya di cover album asli, ada lirik lagunya.


Adek-adek yang masih unyu pasti nggak tau kotak-kotak itu benda apa.

Gue mengakui dulu sering beli kaset bajakan, tapi saat itu gue sama sekali belum tau kalo pembajakan itu perbuatan yang jahat. Yang gue tau artis-artis yang lagu bajakannya gue nikmatin itu, hidupnya bahagia-bahagia aja. Dan semua pemikiran itu berubah saat gue sendiri punya karya.

Suatu hari, di bilangan Blok M, gue disamperin oleh seorang dedek-dedek unyu yang ingusnya mengalir dari hidung sampai leher. Di tangannya, dia menggenggam sebuah buku bercover krem dan bergambar gue.

“Bang.. Minta tanda tangan di bukuku dong!”

“Boleh..Boleh..” Gue segera meraih buku SKRIPSHIT itu.

Saat gue pegang, ternyata bentuk fisiknya beda. Kertasnya lebih tipis, cover dan tulisannya juga agak buram.

“Dek..Beli di mana ini bukunya?” Tanya gue sambil nangis guling-gulingan di trotoar.

“Ituh di bawah..Lagi diskon loh kak! Cuma 20 ribu!!” Dedek Unyu itu menjawab dengan antusias.

Dalam hati gue terpukul. Sudah bisa dipastikan kalo yang dia beli ini adalah buku bajakan. Nggak masuk logika banget kalo buku asli yang terbitnya belum lama, didiskon lebih dari 50%.

Akhirnya dilema pun muncul. Kalo gue tanda tanganin, artinya gue mendukung pembajakan karya gue sendiri. Kalo nggak gue tandatanganin, gue ntar bikin nih anak sedih. Akhirnya gue jelasin ke dia kalo buku itu adalah buku bajakan. Gue kasih pengertian bahwa membeli buku bajakan, artinya dia nggak menghargai gue yang butuh waktu berbulan-bulan buat menulisnya. Gue pun menolak untuk menandatangani buku itu. Dan untuk mengobati kekecewaannya, gue minta alamat dia untuk gue kirim buku asli beserta tanda tangan gue. Dengan catatan, dia nggak boleh beli buku bajakan lagi. Win-win solution!


Sejak saat itu, gue mulai mengerti betapa sakitnya kalo usaha gue nggak dihargai. Di titik itu juga, akhirnya gue komit untuk berusaha sebisa mungkin menghindari produk-produk bajakan. Bukan.. Bukan buat gaya-gayaan. Tapi gue nyadar bahwa menikmati barang bajakan itu sama hinanya dengan menikmati barang hasil curian yang tidak diridhoi oleh pemiliknya. Nggak berkah.

Nah, dari yang udah gue pelajari, maraknya kasus pembajakan karya di Indonesia itu ada beberapa penyebabnya. Here they are:

Murah
Nggak bisa dipungkiri, banyak orang memilih untuk make barang bajakan karena harganya jauh lebih murah atau bahkan gratis. Tapi, apakah mereka nggak nyadar kalo hal yang dilakukan itu sama jahatnya dengan mencuri? Dan pastinya, dengan harga yang murah, konsumen produk bajakan sudah siap dengan kualitas produk yang jauh lebih jelek dibandingkan produk aslinya. Dan yang jelas, nggak ada kebanggaannya.

Distribusi
Untuk produk yang berbentuk fisik, banyak orang khususnya di daerah-daerah terpencil memilih untuk memakai produk bajakan karena produk yang original belum terdistribusikan ke daerahnya. Zaman gue SMP dulu kan masih tinggal di Sragentina. Kalo mau beli album musik asli, gue kudu ke Solo dulu, kota yang jaraknya 30 KM dari tempat gue tinggal. Nah, karena zaman itu gue belum berani pergi ke luar kota sendiri, akhirnya gue terpaksa ke pasar terdekat buat beli kaset bajakannya.

Kurangnya Kesadaran konsumen Tentang Proses Kreatif
Dalam setiap karya kreatif, pastinya ada proses panjang untuk menciptakannya. Misal untuk membuat aplikasi atau game di smartphone, seorang programmer harus berkutat di depan komputer selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan demi menyusun kode demi kodenya untuk menemukan logika yang tepat.


Jadi inilah bentuk asli dari setiap aplikasi/game yang lo pakai sehari-hari.
Pusing nggak lo?

Atau, liat deh proses terciptanya sebuah album musik ini. Temen-temen gue dari band Festivalist udah bikin listnya. Kira-kira setiap album musik mengalami proses yang sama seperti ini:


Ngerti kan kenapa musisi sangat membenci pembajakan?

Nah, sebagian dari kita mungkin nggak sadar betapa beratnya melakukan aktivitas kreatif gitu. Mungkin kita juga nggak sadar udah berapa banyak hal dari hidup seorang programmer/musisi/seniman yang harus dikorbankan untuk menciptakan aplikasi, karya seni, atau lagu-lagu itu. Nah, sakit nggak kira-kira kalo orang yang udah susah payah gini, nggak ngedapetin haknya setelah karyanya kita nikmati? Yang dapet keuntungan malah mas-mas tukang ngegandain CD-nya.

Lemahnya Perlindungan Hukum
Pembajakan memang diatur dalam hukum, di mana hal itu termasuk hal yang ilegal. Tapi sayangnya, masih terlihat sangat kurang upaya pemerintah untuk memerangi pembajakan. Bisa diliat di pasar-pasar, atau pusat perbelanjaan, ada kios-kios penjual DVD film, musik, atau game bajakan yang berjualan dengan rasa ceria. Padahal para seniman ini juga bayar pajak yang nggak sedikit untuk penjualan album-albumnya. Tapi kenapa pemerintah terkesan malas mendukung jualan mereka?

Susah Transaksinya
Ini salah satu kendala yang gue alamin dulu. Niatan mau beli aplikasi berbayar di smartphone, tapi gue kepentok sama cara pembayarannya yang mengharuskan gue untuk memakai kartu kredit. Sedangkan gue nggak punya kartu kredit. Hal ini yang akhirnya bikin sebagian orang beralih untuk mendownload aplikasi versi bajakannya aja. Ya mau gimana, pengin aplikasinya, ada duitnya, tapi nggak bisa bayarnya.

Tapi sekarang ada kabar baik!

Beli aplikasi, majalah, atau buku di Google Play Store atau Google Book, nggak seribet dulu lagi! Kita bisa membeli semua items di Google Play Store dengan cara potong pulsa seluler! Nah, kalo gini, nggak ada alasan lagi buat download aplikasi bajakan dong!



Eh seriusanLitt? Gimana caranya?!

Oke, gue jelasin dulu apa aja serunya program ini ya.. Indosat baru aja ngeluarin 2 tipe kartu perdana Mentari Smart Voucher.

Yang pertama seharga 600 ribu, dan yang kedua seharga 1,2 juta. Mahal? Enggak! Liat dulu bonus-bonusnya!


Tuh! Kalo diitung-itung jadinya malah murah banget kan? Dapet pulsa 50 ribu setiap bulan SELAMA 2 TAHUN, terus dapet diskon gede buat pembelian smartphone dan gratis internet buat aplikasi-aplikasi seru pula. Indosat nggak takut rugi ya? Nggak lah.. Indosat pengin bikin hidup kita semakin seru! Untuk info lebih lanjut tentang program ini, silakan cek: bit.ly/1AEIB3I

Yang udah lama make kartu Indosat gimana, Litt? Bisa beli aplikasi juga nggak? 

Bisa! Pemakai kartu iM3, Mentari (prabayar) dan Matrix (pascabayar) tetep bisa beli aplikasi di google play dengan pulsa.

Caranya simpel, pastiin kartu yang lo pakai di hape android lo adalah kartu Indosat (iM3, Mentari, Matrix), terus buka aplikasi Google Play Store. Abis itu, masuk menu "My Account", dan pilih "payment methods". Lalu pilih "Add payment method" dan pilih "Bill my Indosat account".


Abis itu Google Play Store bakal melakukan verifikasi via SMS, tunggu aja sampai proses sukses, dan kelar deh!


Berkat program baru Indosat ini, akhirnya gue jadi kalap belanja aplikasi-aplikasi yang dari dulu pengin banget gue beli tapi gagal karena nggak punya kartu kredit. Makasih Indosat! :D

Yap.. This is the end of the post. Semoga info ini berguna buat kalian. Btw, Kalian ada alasan lain kenapa orang-orang masih suka make produk bajakan? Share di comment box ya! Makasih~