Selasa, 29 September 2015

Jangan Berkomitmen Karena Alasan Ini..


Tiap lebaran, tiap arisan keluarga, tiap ada saudara nikahan, lo (yang udah dianggap dewasa) pasti gerah sama pertanyaan "Kapan nikah?"

Mungkin pertanyaan itu buat para penanya cuma basa-basi semata. Tapi buat lo yang usianya memang udah layak nikah, namun belum juga punya pasangan (atau punya pasangan tapi dia nggak ngasih-ngasih kepastian), pertanyaan itu bisa bikin resah. Apalagi kalo pertanyaan semacam itu diulang-ulang terus setiap ketemu saudara. Lama-lama bikin kita pengin pindah ke Mars dan  belajar membahagiakan diri sendiri.

Tenang.. Di postingan ini, gue mau berbagi tentang beberapa alasan untuk tetap sendiri dulu daripada terjebak hubungan palsu. Iya, jangan sampai lo mencoba berkomitmen (pacaran/nikah) karena alasan-alasan di bawah ini, karena efeknya bisa bahaya:

Kesepian
Serunya hidup saat punya banyak teman buat diajak ke mana-mana. Berbagi canda tawa, maupun berbagi perihnya luka. Tapi kadang kesenangan itu hilang, saat mereka mulai jatuh cinta. Karena tak akan ada lagi teman yang sama, saat mereka sedang dimabuk cinta. Wajar, setelah mereka pacaran, mereka punya prioritas baru yang kadang lebih penting dibanding pertemanan. Efeknya apa? Lo kesepian.

Dari yang biasanya punya temen buat nongkrong, jadinya nongkrong sendiri. Dari yang biasanya punya temen buat ngegame, jadi ngegame sendiri. Dari yang biasanya boker bareng, punggung-punggungan, jadi cebok sendiri. Pengalaman semacam itu memang pedih. Hidup berasa punya lubang besar yang terasa menganga, dan hampa.

Dalam keadaan kayak gini, kadang ada dorongan buat nyari pacar biar sama-sama punya pasangan kayak teman-teman dan nggak lagi kesepian. Apakah itu langkah yang bijak? TIDAK.

Bila kesepian adalah alasan lo untuk berkomitmen, maka saat lo nggak kesepian lagi, lo bakal dengan mudah ninggalin komitmen itu. Kenapa? Karena saat lo nggak kesepian, lo nggak perlu lagi pasangan. Kasian, si pacar cuma jadi cadangan pengusir kesepian. Lo tega?

Coba baca tulisan gue YANG INI, mungkin mencerahkan soal kesendirian.

Dikejar Umur
Seperti keresahan yang gue tulis di pembuka tulisan ini. Omongan saudara, orang tua, yang menanyakan tentang pasangan hidup di saat lo udah dianggap dewasa memang mengganggu. 

Gue sering banget denger temen-temen (terutama cewek) yang seumuran gue nyeletuk, "Pokoknya siapapun yang dalam waktu dekat berani datang ke rumah dan melamar aku ke orang tuaku, bakal aku nikahin."

Kadang iba sama orang-orang yang kayak gini. Ya mending kalo yang ngelamar dia manusia, kalo Jenglot gimana?

Tapi apakah segera menikah adalah solusi untuk masalah dikejar umur itu? TIDAK.

Buru-buru nikah dengan orang yang belum benar-benar kita kenal pribadinya itu seperti membeli kucing dalam karung. Kita nggak tau apa yang akan kita dapatkan. Syukur-syukur, dapetnya kucing persia yang berbulu lebat dan lucu, nah kalo dapetnya kucing garong? Kan sayang.

Mana rencananya bakal selamanya menjalani hidup sama orang itu, pula. Kata nyokap gue, orang yang salah milih pasangan hidup, maka akan salah juga caranya dalam menjalani hidup. Pasangan yang baik, yang selalu memberi dukungan, dan doa, akan memberikan kehidupan yang lebih baik. Namun pasangan yang selalu cuek, kasar, dan terlalu dominan, akan membuat hidup semakin penuh beban. Bayangin seramnya punya pasangan semacam itu sampai lo tua.

Masih minat, asal nikah buru-buru?

Pengin Move On
Ini yang bikin gue kadang gemes. Setelah patah hati, daripada galau, beberapa orang memilih untuk segera jadian lagi. Mereka percaya, dengan punya pacar baru, mereka bakal segera lupa kepada orang dari masa lalu. Padahal... TIDAK.

Segera jadian, mungkin akan membuat lo seneng lagi, bisa ketawa-ketawa lagi, dan bisa ngerasa lebih baik. Tapi emangnya harus pacaran ya, biar bisa gitu lagi?

Sebaiknya, lo kenali dulu kebutuhan orang patah hati itu apa aja. Seperti, teman buat berbagi uneg-uneg di hati, bahu untuk menangis, dan kalimat penyejuk hati. Di mana, itu semua bisa didapat dari teman-teman yang bisa mengerti. Nggak selalu dari pacar.

Kenapa gue saranin untuk nggak jadian setelah lo putus? Karena kenyamanan yang lo rasain dari pasangan baru lo itu biasanya cuma bakal bertahan sesaat. Iya, saat hati lo masih cidera aja. Nanti begitu hati lo udah sembuh lukanya, lo nggak ngerasa perlu pendengar lagi, nggak ngerasa perlu bahu untuk bersandar lagi, mungkin lo bakal ngerasa pasangan baru lo ini nggak ada gunanya. Karena sejak awal, yang lo rasain ke dia itu bukan cinta, tapi kenyamanan sesaat aja. Akhirnya ya, kalo udah bosen, ilfeel seketika.

Jahat ya?

Kasian
Ditelpon gebetan, diajak jadian dengan alasan dia bentar lagi mati karena penyakit ambeien di otak. Terus karena lo kasian, lo terima deh cintanya. Apakah itu alasan yang tepat buat jadian? TIDAK.

Jadian cuma karena kasian, jelas sebuah hubungan yang akan berjalan secara pincang. Cinta itu kan membutuhkan ketulusan, kepercayaan, dan kenyamanan. Kalo jadiannya karena kasian, maukah lo nyium dia dengan penuh rasa cinta? Di saat dia belum gosok gigi selama 5 bulan?

Gue yakin, lo nggak bakal ngerasa nyaman untuk menggenggam tangan, memeluk, maupun mencium orang yang nggak benar-benar lo cintai. Karena rasa kasian dan rasa cinta itu beda. Cinta itu ingin memiliki, kasian itu ingin bantu. B-e-d-a. Endingnya apa? Secara nggak sadar, lo udah nipu pasangan lo itu. Cinta yang lo beri ke dia, palsu.

Sedih ya?

Yang mau gue tekankan di tulisan ini sih, "Jangan makan saat terlalu lapar, makanlah sebelum lapar".

Hah? Dari bahas soal hubungan kok jadi bahas kuliner. Lo mabok solar, Litt?

Nggak.. Jangan telan kalimat itu secara arti harfiahnya. Itu cuma analogi. Maksudnya begini, kalo lo makan saat sedang terlalu lapar, tumis beton pun terasa enak. Lo nggak bisa bedain lagi mana makanan yang bergizi dan mana yang beracun. Semua bakal lo makan karena perut udah memaksa untuk diisi.

Nah, begitu juga dalam hubungan. Jangan memilih pasangan saat lo sedang putus asa. Karena, dalam keadaan seperti itu, lo akan melupakan banyak pertimbangan penting dalam memilih pasangan. Semuanya lo anggap bagus. Akhirnya apa? Bisa aja lo ngambil pasangan yang salah. Yang nggak berkualitas. Yang hanya akan menyenangkan lo di awal, tapi merepotkan lo di belakang. Mending kalo komitmennya cuma pacaran. Lha kalo udah nikah? Kebayang nggak, seremnya menikahi orang yang ternyata suka berak di jendela? Seumur hidupnya. Hiiii..

Selalu percaya dan sabar aja. Tuhan akan memberikan yang kita BUTUH, bukan yang kita MAU. Dan soal jodoh, biasanya Tuhan akan memberikan pasangan yang memang PANTAS untuk kita dapatkan. Buat lo yang doyan nongkrong di diskotik, ya susah buat dapet pasangan anak pesantren. Buat lo yang suka bergaul sama cabe-cabean, ya susah buat dapet pasangan wanita karier. Intinya, pantaskan diri dulu, lalu biarkan Tuhan memilihkan yang pantas untuk menjadi pasanganmu. Jangan protes karena lo nggak laku-laku, di saat lo ngabisin waktu cuma di kolong tempat tidur melulu.

Ciao!

Kamis, 24 September 2015

Yuk, Belajar Nulis Kreatif Bareng Gue! 4 Pertemuan, Gratis Semua!

Halo.. Halo..
Maaf teman-teman, akhir-akhir ini gue jarang ngeblog. Tapi gue nggak mau disebut penulis murtad, karena di luar ngeblog, gue juga masih sibuk di dunia tulis menulis juga. Bulan kemarin, gue full sibuk syuting film Relationshit, yang diangkat dari cerita di buku ketiga gue. Bulan ini, gue sibuk nulis skenario buat serial baru. Hihihi..

Kalo dipikir-pikir, seru kan ya.. Melakukan hal yang awalnya adalah hobi, tapi ternyata bisa ngasilin duit begini. Soalnya, sesibuk-sibuknya gue garap tulisan di NYUNYU, garap skenario serial, garap skenario film, nulis buku, rasanya nggak ada capek-capeknya tuh. Mungkin, karena gue seneng mulu setiap ngelakuin aktivitas itu.

Nah, kalo lo tertarik buat melakukan hal yang serupa karena punya minat untuk menjadi penulis, gue mau banget bantuin lo. Kebetulan, gue dikasih kesempatan serta media buat berbagi ilmu oleh Loop. Intinya, gue diajak buat berbagi ilmu menulis gue kepada semua orang yang ada di Indonesia, maupun dunia.


Cara ikutannya nggak ribet kok. Gampang. Lo nggak perlu pergi ke mana-mana. Cuma perlu nyiapin laptop/gadget di rumah/di mana aja. Terus, lo buka deh URL: http://loop.co.id/channel Gue streaming kelas menulis gue di situ di tanggal dan jam sesuai jadwal. Iya, ini semacam kegiatan belajar bareng bagi para kaum LDR.

Gue bakal ngejalanin total 4 pertemuan di kelas menulis dengan 4 tema yang berbeda-beda, seperti ini:

Pertemuan #1: Yang Harus Dipersiapkan Sebelum Menulis (28 Agustus 2015)
Pertemuan #2: Memulai Tulisan Dengan Baik (25 September 2015)
Pertemuan #3: Membuat Pembaca Masuk ke Dalam Imajinasi Kita (16 Oktober 2015)
Pertemuan #4: Pentingnya Mengedit Tulisan dan Publikasi (6 November 2015)

Dengan mengikuti keempat kelas ini, gue berharap lo nggak bingung lagi gimana membuat tulisan dari nol sampai selesai. Silakan catet, atau taruh di reminder lo, biar nggak ketinggalan kelas-kelas berikutnya ya.

Bulan kemarin gue udah ngejalanin kelas pertama yang membahas tentang beberapa hal yang harus dipersiapkan sebelum menulis. Kalo lo ketinggalan kelasnya, lo bisa nonton recorded videonya di sini:


Selain membahas tema yang ada, gue juga bakal memberikan feedback atas tulisan teman-teman yang udah submit ke LOOP. Setelah itu, tetep ada sesi tanya-jawab di kelas ini. Caranya gampang, cukup tweet aja pertanyaan lo, dan mention ke gue (@shitlicious) atau @Loop_ID dengan hastag #LoopKePo. Gue bakal jawabin satu per satu pertanyaan lo di sana. Seru kan?!



Nah, kelas berikutnya adalah besok malam pukul 19:00. Biar lo nggak ketinggalan lagi, pastiin pantengin http://loop.co.id/channel di jam itu ya! Kapan lagi bisa belajar nulis gratis, dan bisa nanya-nanya langsung! Mari berkarya! Muach!

Rabu, 09 September 2015

5 Masalah Hidup Yang Bisa Diatasi Oleh Smartphone

Dua belas tahun yang lalu, tepatnya saat gue masih duduk di meja STM, memiliki hape adalah hal yang sangat jarang ditemui bagi orang-orang di kota gue. Dan saat itu, Nokia 3310 yang udah sangat canggih pada zamannya. Punya tuh hape, pasti pengin pamer ke mana aja. Biasanya tuh hape dikalungin di leher, atau ditaroh di kantong depan biar nongol bagian layarnya, sehingga orang-orang takjub, “Wow! Dia punya hape Nokia 3310!”. Dan kalo lagi terjebak tawuran, ngelemparin Nokia 3310 ke jidat lawan, niscaya akan membuatnya gegar otak sesaat.


Padahal, fitur hape zaman itu tuh belum secanggih zaman sekarang. Komunikasi cuma bisa dilakukan via dua cara: Telpon dan SMS. Udah gitu, tarifnya juga nggak semurah sekarang. Bayangkan, mengirim 1 SMS doang (iya, teks doang), tarifnya adalah Rp. 350. Itulah kenapa pelaku LDR di zaman itu masih sangat sedikit. Soalnya, kalo setiap hari mereka ngirim 100 SMS aja buat ngobrol apa pasangan, niscaya dalam setahun mereka bakal makan betis sendiri buat bertahan hidup tanpa uang.

Tapi di zaman sekarang, hape udah canggih, bahkan sebutannya bukan lagi Handphone, melainkan Smartphone. Iya, hape zaman sekarang itu emang pintar-pintar. Bahkan, kadang lebih pintar dibanding penggunanya. Di postingan kali ini, gue mau bahas tentang gunanya Smartphone dalam mengatasi masalah hidup para penggunanya. Here they are:

Membantu pekerjaan
Dengan dukungan OS yang canggih, smartphone zaman sekarang udah bisa disebut sebagai komputer kantong. Banyak aplikasi kantoran (Excell, Word, Powerpoint) yang bisa dijalankan di smartphone juga.


Sehingga, penggunaan Smartphone ini benar-benar sangat membantu pekerjaan orang tanpa perlu menenteng CPU di punggung mereka.

Membantu melawan kebosanan
Semua smartphone pastinya juga memiliki market/download center sendiri, sehingga penggunanya bisa dengan bebas memilih aplikasi apaaa aja yang mereka mau. Dan di saat bosan melanda, pengguna bisa milih, mau main game atau dengerin lagu, atau nonton video di Youtube. Zaman dulu mah, kalo lagi bosen ngantre di bank, paling dengerin ringtone polyponik di hape jadul.


Atau, bikin ringtone.

Mempermudah komunikasi
Ini yang membuat Smartphone semakin digandrungi. Berbeda dengan hape jadul yang cuma bisa ngirim SMS dan nelpon, Smartphone mengandalkan internet untuk mempermudah komunikasi kita. Bisa VoIP (telpon via internet), maupun Video Call sehingga kita bisa ngeliat langsung wajah orang yang kita ajak bicara meskipun berada di tempat yang berbeda. Kalo masih suka obrolan teks, bisa pilih ratusan aplikasi chatting yang juga mengandalkan internet. Tarifnya? Nggak mahal kayak dulu lah. Internet mempermudah dan mempermurah komunikasi.

Mempermudah proses belajar
Zaman dulu, untuk nyari info tentang sebuah teori, kita harus ke perpustakaan, lalu mengobrak-abrik rak-raknya untuk menemukan buku yang dimaksud. Tentu hal itu nggak cuma boros tenaga, tapi juga boros waktu.

Zaman sekarang, berkat internet yang udah dengan lancar mendukung smartphone, mencari info itu semudah: Ketik->klik search->nemu hasilnya. Makanya, smartphone memang sangat mempermudah proses belajar penggunanya.

Nggak cuma soal akademis. Gue, sebagai orang baru di Jakarta, akhirnya bisa mengenali jalanan Jakarta juga berkat smartphone. Gue berani main ke sana-sini berkat aplikasi maps (GPS) di smartphone gue, sehingga setiap kali gue jalan, gue nggak perlu berhenti dan nanya-nanya penduduk lokal tentang jalur yang harus gue tempuh untuk pulang. Dan alhamdulillah, gue nggak pernah nyasar sampai Azkaban.

Menjadi asisten pribadi
Nggak punya pacar di zaman sekarang, tidak semenyiksa zaman dulu. Rasa kesepian dengan mudah bisa dihapuskan oleh smartphone. Mau nyari temen, tinggal pake aplikasi sosial media, mau nyari hiburan, tinggal buka Youtube atau game.

Nah, kalo kamu hidup sendiri, pastinya kamu sering lupa buat ngelakuin sesuatu karena nggak ada yang ngingetin, kan?

Tenang, Smartphone bisa menjadi asisten pribadimu setiap saat. Ada aplikasi reminder maupun schedule di smartphone yang akan mengingatkanmu tentang agenda-agenda yang nggak boleh terlewatkan. Dengan begitu, meskipun sedang hidup sendiri, kamu nggak akan kesepian lagi. Ada yang ngingetin makan, ibadah, dan ngingetin mantan.

Nah, itu adalah lima hal yang bisa smartphone lakukan untuk memperingan hidup kita. Sebenarnya masih banyak hal lain lagi yang bisa dilakukan oleh smartphone. Tapi nggak mungkin bisa gue bahas semua di sini.


Dengan menulis postingan ini, gue harap pengguna smartphone di negeri ini semakin meluas, sehingga orang-orang di daerah pun bisa menikmati manfaat smartphone. Dan mereka tidak tertinggal dari orang-orang kota. Sudah waktunya kita mengajak semua orang untuk merasakan manfaat kemajuan teknologi juga. 

Jadi, buat yang belum berani nyicipin smartphone, ayo deh coba dari sekarang. Nggak serem kok. Dan smartphone itu nggak selalu mahal. Ada buanyak pilihannya yang bisa kamu sesuaikan dengan keperluanmu. Akan lebih baik lagi buat kamu yang udah punya smartphone, beliin juga ortumu smartphone. Biar semakin dekat dengan keluarga, meskipun secara fisik tak bersama. Jangan takut buat upgrade ke hal yang lebih baik. Mari kita upgrade Indonesia.

Sabtu, 05 September 2015

Peluang Karier itu Ada di Mana-mana. Asal Kita Jeli Melihatnya.

Saat gue baru pindah di Jakarta, gue nemuin culture shock yang lumayan bikin gue keliatan kayak orang yang kekurangan garam beryodium. Keseringan bengong, heran, dan ngileran.

Salah satunya, gue pernah kejebak hujan pas abis meeting di sebuah cafe area Senayan. Sejam lebih gue nunggu, hujan nggak kunjung reda. Karena hujan terlampau deras, gue nggak bisa nyari taksi di pinggir jalan dong. Gue cuma bengong nungguin hujan di emperan café. Sampai akhirnya, datang seorang anak kecil nyamperin gue sambil bawa payung.

“Mau pergi ya bang?” Tanyanya sambil mengelap wajahnya yang basah. Gue lumayan heran, dia bawa payung, tapi kok payungnya nggak dipake?

“Iya dek.. Mau nyari taksi, tapi masih ujan.”

“Ayo bang, aku anter ke pinggir jalan pake payung sampai nemu taksi.” Anak itu dengan ramah menawarkan bantuan.

“Serius?” Gue agak kaget melihat tawaran anak itu. Gue kaget karena konon, sebagian orang Jakarta itu individualis. Susah buat bantuin orang lain. Terlalu sibuk sendiri.

“Serius lah! Ayo!” Jawab bocah itu sambil membuka payungnya.

Gue pun meninggalkan café menuju pinggir jalan. Bocah itu memayungi gue, tapi dia sendiri kehujanan. Gue ngerasa agak sungkan.

“Ayo Dek.. Kamu ikut payungan juga aja.” Gue tarik dia biar berdiri di bawah payung.

“Nggak apa-apa bang. Udah terlanjur basah nih.” Dia kembali menarik diri dan hujan-hujanan.


Kami menunggu taksi di pinggir jalan selama kurang lebih 5 menit, sampai akhirnya ada sebuah mobil taksi menghampiri kami. Gue segera masuk ke dalam taksi setelah bilang makasih, lalu menutup pintu. Tapi beberapa saat kemudian tuh anak ngetok-ngetok jendela taksi. Gue segera membuka jendela, dan bertanya,

“Ya dek?”

“Jadi 10 ribu bang..” Jawab anak itu kembali sambil ngelapin wajahnya yang penuh air hujan.

“He?” Gue bingung apa maksud anak itu sambil siap-siap megangin Rice-cooker. Jaga-jaga kalo dia mau malak pake senjata tajam, gue bakal rebus kepalanya.

“Iya.. Abang harus bayar 10 ribu buat ojek payungnya.”

Gue segera merogoh duit ceban dan gue kasih ke anak itu. Meskipun di dalam hati gue bertanya “WHAT THE HELL IS UMBRELLA-TAXI?”

Di jalan, gue nanya kepada Pak Sopir taksi, lalu beliau menjelaskan tentang jasa bernama ojek-payung itu. Jadi, ojek payung adalah usaha yang menawarkan jasa nganterin orang yang kejebak hujan ke titik tertentu dengan memakai payung agar tidak kehujanan. Well, gue nggak pernah nemu jasa semacam itu di Jogja. Wajar kalo gue sempet bengong pas ngira gue dipalak bocah.

Apa yang dilakuin anak kecil itu adalah bisnis yang muncul karena kejelian pelakunya dalam melihat peluang. Ada banyak lagi bisnis nyeleneh yang gue temuin di Jakarta yang lahir dari peluang. Misal:

Polisi Cepek
Kalo lo hidup di Jakarta, atau kota-kota besar yang tingkat macetnya udah naudzubillahimindzalik, lo pasti pernah nemuin orang yang berdiri di persimpangan jalan sambil niup-niup peluit dan sibuk ngatur jalan. Tapi dilihat dari pakaian dan tampangnya, tentunya dia bukan polisi. Di Jakarta, orang yang beraktivitas begini, sebutannya adalah Polisi Cepek. Mereka mengatur lalulintas di daerah-daerah rawan macet agar semua pengendara mendapatkan giliran untuk lewat.


Nah, mereka dapet duitnya dari mana?

Ya dari pengendara yang lewat lah. Emang sih, nggak ada tarif khususnya dan nggak wajib buat ngebayar mereka, tapi sebaiknya memang siapin duit receh buat mengapresiasi usaha mereka yang sudah melancarkan perjalanan kita sambil panas-panasan di jalan. Anehnya, selama gue jalan di Jakarta, gue lebih sering nemu Polisi Cepek ngatur jalan, dibanding Polisi cepak. Tapi setidaknya Polisi Cepek nggak bisa nilang lah.

Joki 3in1
Buat yang di luar Jakarta, gue jelasin dulu. Jadi, di hari-hari kerja (Senin-Jumat) ada aturan bernama 3in1 di beberapa jalan yang rawan macet seperti jalanan di area perkantoran Sudirman.

3in1? Apa itu?

Jadi, setiap pukul 7:00-10:00 pagi dan pukul 16:30-19:00, beberapa ruas jalan yang udah ditunjuk, hanya boleh dilewati mobil yang berpenumpang 3 orang atau lebih. Jadi, orang yang nyetir 1 mobil sendirian atau berdua, bakal ditilang.

Biar apa tuh?

Ya demi mengurangi jumlah kendaraan yang melewati ruas jalan itu, sehingga kemacetan bisa diminimalisir di area itu.


Nah, aturan itu menciptakan peluang bagi orang-orang kreatif di ibu kota. Kalo lo mau ke Sudirman di jam-jam berlakunya 3in1, biasanya sebelum sampai ke area itu lo bakal nemu banyak orang yang ngacungin jari di pinggir jalan seolah-olah mau numpang. Tapi tujuan mereka bukan mau numpang, tapi melengkapi jumlah penumpang di mobil lo biar jadi 3 orang, sehingga elo bisa lewat area 3in1 dengan selamat tanpa ditilang. Jadi, kalo elo masih baru di Jakarta, saat liat orang-orang ini, jangan langsung lo angkut dengan dasar mau berbaik hati.

Apakah jasa ini gratis? Enggak.

Para Joki 3in1 ini punya tarif khusus. Rata-rata sih 20 ribu/orang. Kalo bisa nawar, bisa lebih murah. Dulu gue pernah hampir dipalak saat tergiur untuk memakai jasa mereka.

“Gue harus bayar berapa mas?” Tanya gue sebelum mengizinkan joki itu masuk ke dalam mobil.

“50 ribu deh.. Berdua jadi cepek.” Jawab tuh orang dengan santai. Kaget dengan tarif yang dia patokin, gue pun jawab,

“Nggak jadi deh.. Mending gue ditilang ajah. Bye!”

Gue pun ngacir.

Tukang Parkir Liar
Gue yakin, di setiap kota pasti ada jasa seperti ini. Iya, dengan jumlah kendaraan terbesar ketiga di Asia, praktis penumpukan kendaraan terjadi di berbagai sisi negeri ini. Terutama di kota-kota besar yang tingkat mobilitasnya tinggi. Hal ini memberi efek samping: Jumlah tempat parkir yang disediakan di mal ataupun perkantoran tidak mencukupi.


Peluang ini pun terbaca oleh para orang-orang kreatif yang siap menjawab keresahan para pemilik kendaraan yang bingung mau parkir di mana. Akhirnya, mereka menyewa lahan untuk digunakan sebagai tempat usaha parkir mereka. Dan memang, usaha seperti ini nggak pernah sepi, karena minimnya tempat parkir legal. Penghasilan para tukang parkir liar ini juga cukup fantastis. Dengan tarif 2000 per motor, bayangkan kalo ada 1000 motor yang mereka parkirin sehari. Jadi 2 juta sehari. Iya, sehari. Beuh.. Gajinya ngalahin gaji resmi Bupati.

Penjual Tas Belanja
Ini adalah usaha paling absurd yang pernah gue temuin. Kalo lo pernah turun di halte Tosari, lalu melewati jembatan penyeberangan menuju GI di weekend, lo bakal nemuin penjual tas belanja branded. Iya, tas belanja branded, bukan tas branded.

Awalnya gue penasaran kenapa mereka jualan tas begituan, gue kira ya cuma buat nenteng barang kayak biasanya. Ternyata, mereka punya konsumen yang unik. Yaitu orang-orang yang pengin keliatan bergengsi dan belanja barang-barang branded. Intinya, orang-orang bakal beli tas belanja branded itu, terus diisi barang-barang nggak penting dari rumah buat ditenteng-tenteng di mall biar keliatan kayak orang kaya yang abis belanja produk-produk mahal. Duh gusti. Ada-ada aja yah, cara orang nurutin gengsi.

Semua pekerjaan di atas tentunya nggak memerlukan ijazah atau skill khusus yang harus dipelajari bertahun-tahun. Profesi itu dilahirkan oleh kejelian manusia untuk melihat peluang yang ada. Dan nyatanya, profesi-profesi itu bener-bener bisa menghidupi mereka.

Gue percaya, profesi yang laku itu biasanya profesi yang lahir dari keresahan. Saat kita mampu mengatasi keresahan itu, orang pasti akan mau “membeli” jasa kita. Contoh simpelnya, yang lagi booming sekarang, jasa ojek yang bisa dipesan pake smartphone. Itu adalah jawaban dari keresahan orang-orang yang mau bepergian pakai kendaraan umum. Banyak orang yang resah dengan resiko saat mengendarai kendaraan umum. Misal, takut kecopetan, takut diculik, atau malas nego-negoan sama tukang ojek yang suka malak tarif. Dengan menawarkan jasa pencarian tukang ojek menggunakan smartphone, pengguna jelas-jelas mendapatkan jaminan keamanan karena si driver jelas identitasnya, dan tarifnya flat. Jadi, penumpang tidak perlu takut dipalak.

Itu tadi cuma contoh hasil kreativitas orang yang pandai melihat peluang. Bayangkan kerennya ide pencipta jasa ojek online itu. Dia punya perusahaan jasa transportasi umum, tapi nggak perlu punya motor satu pun! Modalnya cuma kreativitas.

Nah, sekarang gue berharap kalian juga bisa seperti itu. Mampu melihat peluang yang ada, untuk diberdayakan menjadi pekerjaan yang tentunya bisa membantu sesama, serta bisa membuat kalian mendapatkan upah atas jasa yang kalian jual itu. Peluang ada di mana-mana, asalkan kita jeli melihat keresahan orang-orang di lingkungan kita. Jadi, jangan mengeluh nyari pekerjaan susah, mulailah berusaha menciptakan peluang sendiri.

If I don’t get a job, I’ll create one. What do you think?