Minggu, 23 November 2014

Tanda-tanda Bahwa Ortu Pacar Tidak Suka Sama Elo Pas Ngapel

Sejak pukul 4 sore di hari sabtu yang cerah, Supri sudah mencuci motornya. Setelah dia mencuci motornya, dia pun mengelapnya dengan sabun pencuci piring. Motor Jepang produksi tahun 1975 itu pun terlihat mirip seperti baru. Supri terlihat puas sama penampilan motornya. Dia pun bergegas pergi masuk ke dalam rumah dan menuju kamar mandi. Supri mandi dan keramas, lalu dilanjutkan dengan memakai parfum yang terbuat dari perasan kembang desa.

Supri memilih-milih koleksi bajunya yang ada di lemari. Lima belas menit berlalu, Supri masih bingung mau pake baju yang mana. Dia sudah mengeluarkan semua bajunya dari lemari. Padahal, pakaian Supri sama semua, seperti Nobita. Setelah Sholat istiqarah, Supri pun mendapatkan petunjuk, baju mana yang bakal dia pake malam itu. Dan setelah ganti baju, Supri pun terlihat tampan seperti biasanya. Rambut disisir belah tiga. 

Setelah sholat maghrib, Supri segera menyalakan motor bututnya. Supri segera meluncur ke rumah Ningsih, pacarnya. Satu jam perjalanan, dia tempuh untuk mencapai rumah Ningsih yang berjarak 500 meter dari rumahnya. Tubuhnya yang tadinya wangi parfum, berubah menjadi wangi bensin. Supri memarkirkan motor bututnya di halaman rumah Ningsih. Dia pasang gembok di jeruji motornya, dikunci stangnya, dan dia copot busi serta piston motor itu untuk dikantongi, agar motornya tidak dicuri orang.

Halaman rumah Ningsih, tidak begitu luas, namun tampak sangat gelap karena di sana ada banyak pohon jati dan pohon-pohon lain yang usianya sudah ratusan tahun. Supri melewati pepohonan itu dengan lincah sambil beberapa kali terpaksa bertarung dengan cheetah, lalu Supri menyeberangi sungai kecil di depan teras rumah Ningsih. Terlihat di sungai itu ada beberapa buaya yang sedang menunggu korbannya. Selepas menyeberangi sungai, Supri pun tiba juga di teras rumah Ningsih.

"Tok! Tok! Tok!" Supri memukul-mukul pintu rumah Ningsih menggunakan kaki.

Beberapa saat kemudian, terdengar langkah yang berat mendekat dan pintu rumah itu dibuka. Muncul sebuah sosok hitam, besar dan berbulu. Supri terdiam sesaat, namun saat menyadari itu adalah ayah Ningsih, Supri pun angkat bicara.

"Mmm.. Maaf pak.. Ningsihnya ada?"

"Ada. Kamu siapa?" Suara serak dan berat terdengar dari mulut bapak Ningsih yang letaknya di bawah dadanya.

"Sa.. Saya Supri.. Pacarnya Ningsih.. Boleh saya ketemu?"

"Tidak! Kamu tau ini jam berapa?" Nada bicara bapak Ningsih mulai tidak bersahabat.

"Ba-baru pukul 7:30 pak.."

"NAH! Itu jam belajarnya Ningsih. Jangan diganggu. Emang kamu nggak belajar juga? Kamu nggak sekolah? Kamu pasti pengangguran ya?" Mata ayah Ningsih menatap tajam ke arah Supri. Air liur menetes dari mulutnya dan meluncur ke kakinya sendiri.

"Ti-tidak pak.. Saya satu sekolah sama Ningsih kok." Supri mulai ketakutan karena mata ayah Ningsih terlihat merah menyala.

"Ya sudah! Sana! Pulang. Belajar! Masih kecil kok udah pacaran!"

"Tap-tapi pak.. Ini kan malam minggu.." Supri memberanikan diri untuk menolak pulang.

"Belajar itu nggak ada jadwalnya! Selama ada waktu, bagusnya dipake untuk belajar!" Suara ayah Ningsih mulai mirip knalpot Harley Davidson. Membuat dada Supri bergetar-getar.

"Tap..."

"PULANG SANA!" Ayah Ningsih mulai mengamuk. Dia mencabut sebuah pohon besar dari depan terasnya, lalu dia kibas-kibaskan ke arah Supri. Supri pun ketakutan dan lari tunggang-langgang.

Malam itu, Supri gagal ngapelin pacarnya karena orang tua sang pacar tidak setuju dengan hubungan mereka. Supri tampak sedih, namun dia bersyukur setidaknya dia masih bisa pulang tanpa kehilangan satupun organ tubuhnya.

Yap! Mungkin sebagian dari kalian udah pernah ngalamin kejadian semacam itu. Gue sendiri juga pernah kok ngalamin hal yang lebih ekstrim daripada yang dialami Supri. Pas STM, gue dateng ke rumah pacar di malam minggu dan disambut ayah pacar di depan pintu. Ayahnya tidak melarang kami bertemu, tapi dia ngetes gue dulu. Gue disuruh baca sebuah surat di Al-qur'an.. Kalo gak bisa baca ampe habis, gue nggak boleh ketemu. Akhirnya, sebagai jebolan santri, gue terima tantangan itu. Dan lima menit kemudian, gue nangis sesenggukan karena gue salah paham. Gue kira, gue cuma disuruh baca Al-fatihah, tapi ternyata gue disuruh baca surat Al-baqarah, di mana mungkin kelar bacanya bakal besok lusa. Gue pun pulang dan nggak mau ngapelin pacar gue lagi.

Buat gue, mending sih ketemu orang tua yang to-the-point kalo gak suka gitu. Daripada sok ramah, tapi aslinya nggak suka sama gue. Nah, gue yakin, di luar sana banyak banget orang tua yang nggak suka kalo anaknya diapelin. Mungkin lo belum nyadar kalo ortu pacar lo itu nggak suka setiap kali lo ngapelin anaknya. So, kode-kode macam apa sih yang suka mereka lakukan buat nunjukin kalo mereka nggak suka sama lo? Let's cekidot!


Pic by: @olderplus - nyunyu.com

1. Pacar disuruh-suruh
"Kamu tahu nggak, siapa pria yang paling beruntung di dunia?" Supri mengucapkan kalimat itu sambil menggenggam tangan Ningsih. Mereka sedang duduk di sofa teras rumah.

"Siapa emang?" Ningsih tersenyum najis sambil berharap dia bakal digombalin.

"Aku.."

"Kamu? Kok bisa?" Ningsih mengernyitkan dahi.

"Soalnya, aku punya segalanya. Karena buat aku, kamulah segalanya. Hihihihi!" Supri menggenggam tangan Ningsih lebih erat, lalu mendekatkan bibirnya ke arah dada Ningsih. Saat bibir Supri hampir bersentuhan dengan tubuh Ningsih, terdengar suara kencang dari dalam rumah.

"NINGSIH!! SINI!!" Suara ayah Ningsih memanggil-manggil dengan penuh semangat. Supri dan Ningsih panik, Supri segera memakai celananya, dan Ningsih segera memakai kostum astronot.

Ningsih pun segera masuk ke dalam rumah. Beberapa saat kemudian, Ningsih keluar rumah lagi sambil menggenggam duit sepuluh ribu.

"Maaf, aku tinggal bentar ya.. Disuruh beli obat nyamuk.. Hehe" Ningsih pamit ke Supri.

"I-iya.."

Lima belas menit kemudian, Ningsih sudah kembali ke rumah. Mereka kembali duduk bersama. Dan siklusnya terulang lagi. Setiap kali Supri dan Ningsih hampir bersentuhan, Ningsih disuruh keluar untuk beli gula, cabe, sayur, sampe disuruh jihad di Palestina.

Dengan siklus yang seperti itu, Supri pun tidak nyaman sama kondisi apel dia. Menyadari Ningsih yang sangat sibuk, Supri pun berpamitan untuk pulang. Misi ortu Ningsih buat bubarin apel itu pun sukses!

2. Disuruh masuk
Di minggu berikutnya, Supri kembali ke rumah Ningsih. Kali ini dia punya strategi baru, yaitu setiap kali Ningsih disuruh belanja keluar, Supri mau nemenin. Jadinya, malam minggu mereka malah lebih seru. Namun ortu Ningsih tidak kehabisan ide. Di saat mereka sudah merasa malam mulai larut, Ningsih dipanggil masuk ke dalam rumah dan disuruh tidur. Supri? Disuruh pulang dengan dalih bahwa sudah terlalu malam untuk bertamu. Padahal, jam baru menunjukkan pukul 19:45. Supri pun pulang dan merasa tak berdaya.

3. Lampu dimatiin
Di minggu berikutnya, Supri datang lagi dengan strategi baru. Supri sengaja datang dari pukul 5 sore, sehingga setidaknya dia bisa ngobrol sama Ningsih lebih dari dua jam. Namun, di saat mereka baru asik-asiknya ngobrol, dan jam baru menunjukkan pukul 6:30, lampu teras sudah dimatikan oleh ortu Ningsih. Karena keadaan sangat gelap dan mereka tak bisa melihat wajah masing-masing, Supri dan Ningsih pun merasa tak nyaman. Supri pun pulang lagi dengan luka di hati.

4. Disindir-sindir
Lagi-lagi Supri tak menyerah. Di minggu berikutnya, Supri membawa nasi bungkus dan lilin. Jadi saat ortu Ningsih mematikan lampu teras, Supri langsung menyalakan lilin yang dia bawa. Akhirnya dia malah bisa melakukan candle light dinner bareng Ningsih di teras rumah.

Baru juga mereka mau suap-suapan, terdengar obrolan kencang dari ruang tamu. Obrolan itu dilakukan oleh Ayah dan Ibu Ningsih.

"Anak jaman sekarang kok ndak ada sopan-sopannya ya pak! Jaman kita dulu, kalo mau nemuin anak perawan, pria itu ya harus kenalan dan izin ke orang tuanya dulu." Suara ibu Ningsih terdengar sengaja dibuat kencang agar terdengar hingga teras.

"Iyo.. Aku dulu mau kenalan sama kamu aja disuruh bantuin bapakmu garap sawah dulu. Anak sekarang mana mau kayak gitu. Mereka nggak ada yang mutu!" Ayah Ningsih menjawab pertanyaan ibu Ningsih dengan suara yang tak kalah lantang.

Obrolan lantang itu berlanjut dan berisi sindiran-sindiran yang membuat Supri merasa semakin tidak nyaman. Supri pun pamit pulang sambil berharap di jalan dia ditabrak oleh Boeing 737.

5. Gangguin obrolan
Tak mau kehilangan Ningsih, kali ini Supri menjalankan strategi baru. Dia membawa beberapa hasil kebun seperti singkong, jagung, dan emas batangan ke rumah Ningsih. Begitu tiba di rumah Ningsih, dia serahkan semua barang-barang yang dia bawa itu kepada ortu Ningsih sambil bilang kalo itu titipan dari ortu Supri. Akhirnya, sikap ortu Ningsih pun berubah. Mereka tidak menyindir-nyindir Supri lagi. Justru, ayah Ningsih malah mau mengakrabkan diri.

Tapi, jadinya saat Supri ngapel, Ayah dan Ibu Ningsih malah menemani mereka berdua ngobrol di teras. Ibunya Ningsih duduk di sebelah Ningsih sambil menonton sinetron di hapenya. Sedangkan ayah Ningsih sibuk membajak tanah di depan teras rumah memakai traktor diesel yang berisik.

Dengan keadaan yang seperti itu, Supri tak bisa menggombali Ningsih. Keadaan canggung terjadi. Supri pun tidak tahan lagi. Supri pulang dan berjanji bahwa dia tak akan pernah kembali. Yap.. Akhirnya ortu Ningsih menang lagi.

Okay.. Kayaknya itu aja dulu yang bisa gue bahas mengenai ortu pacar yang rese. Lo pernah ngalamin yang poin mana? Atau, lo pernah ngalamin poin lain yang nggak gue sebut di atas? Share di comment box yah.. Biar temen-temen yang belum nyadar jadi lebih peka. Ciao! :D

Minggu, 09 November 2014

The New Me

Bulan Februari 2014, gue balik ke Jakarta buat nyari masalah. Iya, tahun 2012 gue tinggalin Jakarta dan pindah ke Jogja demi menikmati hidup. Tapi ternyata, segala kenyamanan Jogja malah menumpulkan kreativitas gue. Karena gue nggak punya keresahan, nggak punya ketakutan, dan nggak punya masalah. Gue sadar, nggak ada karya indah yang tercipta dari hidup yang nyaman-nyaman aja. Setiap pelajaran yang bisa kita petik dari kehidupan, biasanya datang bersama permasalahan. Cerita selengkapnya, bisa lo baca di SINI.

Nah, setelah gue pindah ke Jakarta, praktis jadwal hidup gue berubah. Di Jogja biasanya bangun pukul 12 atau pukul 1 siang karena malamnya begadang. Iya, di Jogja gue jarang lihat matahari pagi. Sarapan pukul 3 sore. Di Jakarta, gue kudu bangun pagi, ngantor setiap Senin sampai Jumat. Sabtu dan Minggu kadang harus ke luar kota buat ngisi seminar menulis atau promo buku. Sehingga, kadang gue malah kurang tidur dan kurang istirahat. Tapi setidaknya, dengan pola hidup semacam itu, gue jadi lebih produktif. Tiga bulan gue tinggal di Jakarta, buku ketiga gue (RELATIONSHIT) berhasil gue selesaiin dan terbit. Satu setengah tahun di Jogja? Nggak bikin apa-apa.

Dengan kesibukan semacam itu, tubuh gue yang sudah terbiasa malas, akhirnya sering banget tumbang. Pernah gue ngeluhin dalam dua bulan gue kena demam, radang tenggorokan, dan pilek tiga kali. Sampai akhirnya, sahabat gue @aMrazing bilang, "Mungkin elo kurang olahraga."

Kalimat itu menyadarkan gue bahwa gue udah memforsir tubuh gue buat bekerja, tapi gue lupa untuk merawatnya. Ditambah lagi, suatu hari gue shock pas gue nggak bisa liat titit sendiri karena ketutup sama perut.


Tenang, perut gue gitu bukan karena busung lapar atau lagi mengandung janin burung unta kok. Itu adalah efek dari penyakit gue yang udah menahun, Gastritis. Penyakit Gastritis ini adalah penyakit lambung yang bisa mudah kambuh kalo gue: Telat makan, kecepetan makan, kurang makan, kebanyakan makan, kebanyakan ngerokok, stress, dan inget mantan.

Kalo kambuh, gue bakal guling-gulingan di kamar karena jantung dan punggung nyeri. Rasanya itu kayak lambung berisi gas berlebihan membengkak dan menekan seluruh organ-organ lain yang ada di dalam perut gue. Biasanya kalo kambuh pukul 11 malam, dan baru hilang sakitnya pukul 4 pagi. Yap, jam segitu gue baru bisa tidur dan harus bangun pagi buat bekerja lagi. Seru kan?

Titit gue ilang

Gue biasanya nggak mau nemuin dokter karena gue takut sama diagnosa. Dan gue bakal bertahan selama gue merasa masih mampu buat nahan. Tapi, bulan April kemarin gue dapet tamparan kencang. Bokap gue, yang usianya baru 40an dipanggil Yang Maha Kuasa karena sakit stroke. Iya, almarhum bokap dulu gaya hidupnya tidak sehat. Minuman keras sudah membunuhnya. Sepeninggalan beliau, nyokap sering stress karena terpukul. Di keluarga gue udah nggak ada kepala rumah tangga lagi. Dan mau gak mau, gue sebagai anak pertama harus menggantikan beliau.

Gue nggak kebayang kalo aja gue meninggal di usia muda, gimana hidup nyokap dan adek gue. Gue tau, penyakit lambung kronis udah banyak memakan korban hingga meninggal. Orang yang gue kenal meninggal karena maag doang udah tiga orang. Itu yang bikin gue parno. Dulu gue sering nulis di buku gue kalo tujuan hidup gue adalah membalas segala jasa nyokap dan membahagiakan nyokap. Makanya gue udah siapin semua jenis tabungan dan asuransi selama gue mampu buat mengantisipasi hal terburuk yang mungkin saja terjadi. Tapi kalo dipikir-pikir, misal gue nggak ada, duit berapapun pastinya nggak bakal bisa menggantikan tanggung jawab gue buat keluarga.

So, sebulan setelah bokap meninggal, gue membuat sebuah keputusan besar. Gue mau hidup, gue mau sehat. Gue konsultasi sama dokter mengenai penyakit lambung gue. Gue langsung ke rumah sakit setiap kali kambuh. Dan gue nggak peduli sama diagnosa. Lebih baik tau kenyataan buruk, dibanding hidup sok normal tapi penyakit menggerogoti. Dan alhamdulillah, dokter bilang gue masih punya kesempatan buat memperbaiki tubuh gue. PR gue yang pertama adalah memperbaiki gaya hidup.

Terhitung sejak Mei 2014, gue berhenti merokok tembakau. Kenapa? Karena merokok bikin Gastritis gue sering kambuh, selain itu paru-paru gue sering nyeri karena ada flek dan iritasi. Kebiasaan yang udah sepuluh tahun gue lakuin itu emang susah buat dihentikan. Tapi bukan hal yang mustahil buat dihentikan. Bulan pertama nyoba lepas dari rokok itu emang nggak mudah. Mulut sering kecut, dan tangan selalu otomatis ngambil sesuatu buat diemut. Tapi kata Sigmund Freud, yang bikin susah untuk berhenti merokok itu bukan nikotinnya, melainkan oral-habits-nya. Yap, sepuluh tahun gue hidup dengan rokok, dua bungkus sehari, bikin gue merasa rokok adalah kebutuhan primer yang lebih penting dari makan. Yang kadang bikin gue nggak bisa mikir atau nulis tanpa ngerokok. Tapi berkat teori om Freud itu, gue jadi tau bahwa gue harus nyari benda lain buat gue emut sebagai penyuplai oral-habits gue. Dan yap, gue pun membeli Vaporizer.


Googling ajah apa itu Vaporizer, gue nggak mau dikira ngiklan.

Sebulan make vaporizer, gue bisa bener-bener lepas dari rokok. Dan bahkan, di bulan ke enam gue berhenti ngerokok tembakau ini, kebutuhan vaporizer gue juga makin berkurang. Gue udah nggak begitu punya oral-habits lagi. Paru-paru gue? Udah nggak nyeri lagi. Dan yang paling menyenangkan dari berhenti merokok adalah daya penciuman gue jadi lebih baik. Gue jadi nggak nyaman dengan bau rokok, bahkan pas masuk kamar teman yang perokok berat, gue ngerasa nggak betah. Gue jadi nyadar, kenapa dulu mantan-mantan gue ngajak putus gara-gara gue nggak mau berhenti merokok.

Gue anggep gue udah sukses berhenti ngerokok. Gue pun lanjut ke program perbaikan gaya hidup berikutnya. Yaitu, olahraga. Kenapa? Karena gue nemu foto gue yang jadul, di mana badan gue masih oke. Nggak buncit.


Dan gue pengin kayak gitu lagi.



Diawali dengan membeli suplemen dan alat olahraga, gue pun komit buat memulai kebiasaan baru gue, fitness. Kenapa gue langsung beli? Biar kalo ntar gue mau berhenti, gue inget semua barang-barang itu gue beli pake duit yang nggak sedikit. Nggak boleh sia-sia.

Gue pun rutin berolahraga. Enam hari per minggu, atau kadang setiap hari, dan satu jam perhari gue lakuin. Awalnya emang berat. Bangun pagi, harus menyiksa tubuh, bahkan di minggu-minggu awal, gue muntah-muntah mulu karena terlalu memforsir tubuh. Tapi justru itu yang bikin gue sadar bahwa gue adalah manusia lemah, wajar kalo sakit-sakit mulu.


"If it ain't hurting, it ain't working"

Dua minggu pertama nyoba rutin fitness emang berat. Selalu ada excuse semacam, "Capek! Ngantuk! Ntar deh." Tapi gue lawan terus setiap pagi, karena gue tau, semua excuse itu tercipta gara-gara tubuh gue belum terbiasa ajah.

Gue milih fitness di rumah biar gue nggak nambah excuse "Males ke gym". Tapi tenang, gue pelajari dulu program olahraga macam apa yang mau gue lakuin. Biar gue nggak clueless dan nggak salah. So, hasil browsing sana-sini dan nanya sana-sini, gue pun ngejalanin program Muscle Isolate di mana setiap hari bagian tubuh yang dilatih beda-beda.

Berikut ini jadwal gue:


Senin: Dada dan Punggung. (Video: INI)

Selasa: Plyometrics (Video: INI)

Rabu: Pundak dan lengan (Video: INI)


Kamis: Yoga


Jumat: Kaki dan Punggung (Video: INI)


Sabtu: Kenpo (Video: INI)

Minggu: Break atau kalo gak males, Yoga, atau core synergetics.

Selain olahraga rutin, gue juga ngatur pola makan biar nutrisi yang dibutuhin tubuh karena kegiatan ekstrem ini nggak kurang. Selain ngonsumsi suplemen, gue selalu makan Pisang dan Putih telur. Untuk pola diet, pernah gue bahas di SINI.



Dan sekarang, masuk bulan ketiga program fitness rumah, gue udah ngerasain hasilnya. Badan lebih fit, udah biasa bangun pagi tanpa alarm, nggak susah tidur lagi karena pukul 10 malem udah nguap-nguap ngantuk, dan Gastritis jarang banget kambuh kecuali kalo gue bandel makan keripik super pedas. :p



Pacar yang lo percayai, bisa saja mengkhianati. Tapi tubuh yang lo rawat, nggak bakal berkhianat.

Sebelum mulai program, BB gue 55 Kg, sekarang, BB gue 67 Kg.

Oiyah, gue sengaja sering update poto tiap kali gue fitness ke social media. Buat pamer? Bukan. Buat komitmen ajah. Jadi gini, kalo gue mulai melakukan sesuatu, gue suka ngomong ke banyak orang. Biar apa? Biar kalo kelak gue berhenti melakukan hal itu, banyak yang ngingetin maupun nanyain "Kenapa berhenti?". Kalo udah gitu, gue bakal malu, dan ngelakuin lagi.

With @ikramarki si manusia tulang.

With @BentaraBumi @TidvrBerjalan dan @Egiiy

Nah, berkat gue sering update ke social media ini, malah jadi banyak temen yang mau gabung gue olahraga tiap pagi.


Ada kepuasan tersendiri saat gue bisa mengajak orang lain melakukan hal positif dalam hidup juga, ternyata.


So, ini gue dan hidup baru gue. Lo udah berani berubah jadi lebih baik belum? ;)


Okay, segini aja gue nulisnya ya. Mungkin kelak, kalo kalian minat, gue bakal sharing program fitness gue di blog. Untuk sementara, kalo ada pertanyaan soal fitness, silakan tulis di comment box. Ntar gue bantu jawab-jawabin semampu gue. Ciao!

"Today, I do what people don't do. Tomorrow, I can do what people can't do."
"Today, I do what people don't do. Tomorrow, I can have what people don't have."